Artikel

Kumpulan artikel informatif seputar pemerintahan, teknologi, dan layanan publik di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

KONSEP MANAJEMEN PERPUSTAKAAN SEKOLAH
10 Agt 2018

KONSEP MANAJEMEN PERPUSTAKAAN SEKOLAH

Perpustakaan berkembang pesat dari waktu ke waktu menyesuaikan dengan perkembangan pola kehidupan masyarakat, kebutuhan, pengetahuan, dan teknologi informasi. Perkembangan tersebut juga membawa dampak kepada “pengelompokkan” perpustakaan berdasarkan pola-pola kehidupan, kebutuhan, pengetahuan, dan teknologi informasi tadi. Istilah-istilah perpustakaan “membengkak” menjadi sangat luas namun cenderung mempunyai sebuah spesifikasi tertentu. Dilihat dari perkembangan teknologi informasinya perpustakaan berkembang dari perpustakaan tradisional, semi-tradisional, elektronik, digital hingga perpustakaan “virtual”. Kemudian dilihat dari pola kehidupan masyarakat berkembang mulai perpustakaan desa, perpustakaan masjid, perpustakaan pribadi, perpustakaan keliling, dan sebagainya. Kemudian juga dilihat dari perkembangan kebutuhan dan pengetahuan sekarang ini banyak bermunculan istilah perpustakaan umum, perpustakaan khusus, perpustakaan anak-anak, perpustakaan sekolah, perpustakaan akademik (perguruan tinggi), perpustakaan perusahaan, dan lain sebagainya. Pengertian perpustakaan pun berkembang dari waktu ke waktu. Pada abad ke-19 perpustakaan didefinisikan sebagai “ suatu gedung,ruangan atau sejumlah ruangan yang berisi koleksi buku yanng dipelihara dengan baik,dapat digunakan oleh masyarakat atau golongan masyarakat tertentu. Bahan  pustaka sebagai hasil budaya dan mempunyai fungsi sebagai sumber informasi ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional. Adapun pengertian perpustakaan sekolah adalah perpustakaan yang berada dalam suatu sekolah yang kedudukan dan tanggung jawabnya kepada kepala sekolah; yang melayani sivitas akademka sekolah yang bersangkutan. Fungsi Perpustakaan Sekolah Perpustakaan Sekolah dalam perannya di dunia pendidikan mempunyai fungsi sebagai : a. Pusat kegiatan belajar-mengajar untuk pendidikan seperti tercantum dalam kurikulum sekolah b. Pusat Penelitian sederhana yang memungkinkan para siswa mengembangkan kreativitas dan imajinasinya. c. Pusat membaca buku-buku yang bersifat rekreatif dan mengisi waktu luang (buku-buku hiburan) d. Pusat Belajar Mandiri bagi siswa Dari beberapa fungsi tersebut maka dapat dilihat bahwa sudah semestinya perpustakaan menjadi bagian integral dari sistem pembelajaran, bukan lagi menjadi ‘pelengkap’ saja bagi keberadaan sebuah sekolah.   Konsep Dasar Manajemen Perpustakaan Manajemen dalam perpustakaan sekolah bukan sekedar kegiatan menempatkan buku-buku di rak, akan tetapi lebih dari itu, sangat kompleks, berkelanjutan, dan selalu berubah. beberapa faktor yang dapat ditemui dalam sebuah proses manajemen perpustakaan diantaranya adalah: • Kebijakan dan prosedur • Manajemen Koleksi • Pendanaan dan Pengadaan • Manajemen Fasilitas • Sumber Daya Manusia • Perencanaan   Bagi pengelola perpustakaan (guru-pustakawan), kegiatan manajemen merupakan bagian atau peran serta dalam pendidikan di sekolah. Secara efektif perpustakaan harus mampu mendukung kurikulum dan program-program sekolah. Untuk mewujudkan manajemen perpustakaan yang baik, maka pengelola perpustakaan perlu: • Mengembangkan kemampuan professional sebagai guru-pustakawan. • Memperhatikan kemampuan yang diperlukan dan prosedur yang dibutuhkan untuk dapat mengelola perpustakaan secara efektif – dari perpustakaan yang sekedar bertahan hidup menjadi perpustakaan yang benar-benar berjalan secara baik. • Mengembangkan kebijakan dan prosedur dengan prinsip-prinsip yang mengaktualisasikan visi dari perpustakaan sekolah. • Memperlihatkan keterkaitan antara sumber-sumber informasi dan tujuan dan prioritas sekolah, serta program perpustakaan. • Menunjukkan peran guru-pustakawan melalui rencana manajemen Kebijakan sendiri mengarah pada ‘MENGAPA’ atau “APA’ prinsip-prinsip dari organisasi (sekolah/perpustakaan). Kadang kala sebuah kebijakan terhadap perpustakaan sekolah sangat dipengaruhi oleh kondisi kebijakan di lingkungannya, baik dari sekolah atau pemilik sekolah, dinas pendidikan, pemerintah atau mungkin departemen pendidikan. Sebagai pengelola perpustakaan (guru-pustakawan), maka kita perlu secara jelas memahami bagaimana mengelola perpustakaan secara efektif, dimana kebijakan sekolah, yayasan, pemerintah dan kebijakan lainnya harus dijalankan, dan prosedur harus dapat merefleksikan kebutuhan-kebutuhan sekolah itu sendiri. Kebijakan disini termasuk didalamnya pendanaan, pengelola, dukungan untuk guru-pustakawan dan factor-faktor lain yang berhubungan. Hal-hal yang perlu dilakukan Guru-pustakawan atau pengelola kaitannya dengan prosedur dan kebijakan adalah: • Melihat kembali sumber-sumber yang dimiliki dan mendefinisikannya sesuai kebutuhan dan perkembangan kebijakan sekolah • Melihat, memperhatikan dan memperbaharui prosedur-prosedur lokal – Sirkulasi, Pemesanan pustaka, dll • Membuat sebuah pernyataan visi dari perpustakaan sekolah yang sesuai dengan kebijakan yang ada. • Memperhatikan kebijakan-kebijakan baru dari sekolah mengenai perpustakaan sekolah. Perpustaakaan juga perlu melakukan perencanaan strategis dalam menentukan prosedur dan kebijakan dari perpustakaan itu sendiri, caranya: - Mulailah dari sebuah visi, - Kemudian lakukan ‘assessment ‘ kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi - Terakhir, buat sebuah kebijakan dan prosedur untuk berbagai macam wilayah manajemen dimana anda bertanggungjawab di dalamnya. Yakinkan dalam proses ini memperhatikan prinsip-prinsip dalam kelompok yang mempunyai minat berbeda di sekolah. Selalu lakukan cek pada kebijakan yang telah kita buat, apakah ada permasalahan atau complain? Yang terpenting bahwa setiap membuat sebuah kebijakan atau prosedur harus selalu mempertimbangkan visi, kebutuhan, dan keadaan dari sekolah atau lembaga induknya. Karena pada prinsipnya perpustakaan sekolah harus dapat mencerminkan visi dan misi sebuah lembaga pendidikan sekolah.   2. Manajemen Koleksi Manajemen koleksi merupakan area kunci dari tangungjawab seorang guru-pustakawan. Koleksi sendiri dapat didefiniskan sebagai sebuah bahan pustaka atau sejenisnya yang dikumpulkan, dikelola, dan diolah dengan criteria tertentu. Pengelolaan koleksi yang baik akan menentukan sukses tidaknya sebuah program perpustakaan sekolah. Karena tanpa dikelola dengan baik, maka koleksi akan tetap menjadi kumpulan atau tumpukan buku yang tidak bermakna. Salah satu karakteristik dari sebuah koleksi perpustakaan sekolah adalah beragamnya jenis sumber atau bahan pustaka tergantung pada kebutuhan pengajar, ukuran atau jumlah koleksi, bagaimana cara mengaksesnya dan keterbaruan. Banyak hal sebetulnya yang dapat dilakukan untuk mengelola koleksi, mulai dari pengadaan, pengolahan teknis (seperti inventarisasi, klasifikasi, pelabelan, penempatan, pemilihan), dan memang tentunya itu membutuhkan perhatian yang serius dari guru-pustakawan. Dalam manajemen koleksi sebetulnya jumlah bukan suatu hal yang menjadi sangat prinsip, akan tetapi lebih penting bagaimana koleksi itu dapat dimanfaatkan dengan baik atau tidak. "It does not matter how many books you may have, but whether they are good or not." - Lucius Annaeus Seneca (3 B.C.-65 A.D.), Epistolae Morale Beberapa hal yang masuk dalam manajemen koleksi diantaranya adalah: - Pemetaan koleksi dan kurikulum - Seleksi: Kebijakan dan Prosedur - Kegiatan Katalogisasi - Pemilahan / Weeding - Rencana Pengembangan Koleksi 3. Pendanaan dan Pengadaan Pendanaan adalah masalah yang sering menjadi ‘momok’ bagi sebagian pengelola perpustakaan dalam mengembangkan perpustakaannya. Untuk itu masalah pendanaan ini harus direncanakan sedini mungkin. Melalui sebuah ‘assesment’ terhadap koleksi dan tujuan pengembangan program-program, sebuah rencana pendanaan dapat dilakukan dan dikeluarkan dalam sebuah dokumen perencanaan bagi perpustakaan sekolah. Sebuah rencana pendanaan akan membantu kita dalam meyakinkan dewan sekolah atau pemilik sekolah untuk menyetujui dan juga sebagai bukti akuntabilitas dari program-program perpustakaan. Rencana pendanaan harus menjadi bagian ‘integral’ dari pendanaan rutin sekolah. Langkah selanjutnya apabila sudah disetujui, maka tugas dari pengelola perpustakaan untuk merancang dan mengawal penggunaan dana yang sudah diajukan. Hal ini harus dilakukan secara sistematis dan sesuai dengan prosedur yang sudah dirancang sebelumnya. Kegiatan pendanaan ini sangat erat hubungannya dengan sebuah kegiatan pengadaan. Pengadaan di perpustakaan dapat meliputi pengadaan koleksi, fasilitas, ruang, alat maupun lainnya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam rencana pendanaan: • Pertimbangkan biaya untuk pengiriman, biaya repackaging, biaya untuk pajak, dan sebagainya. • Usahakan agar pengadaan bahan pustaka 30% fiksi dan 70% non-fiksi – namun perlu juga dipikirkan atau disesuaikan dengan kebutuhan anak-anak. Misal untuk anak-anak SD mungkin juga proporsi tersebut akan berbeda dengan anak-anak SMP, karena biasanya untuk anak-anak SD seringkali membutuhkan buku-buku yang mudah untuk dipahami. • Rencana pendanaan harus berkesinambungan dari tahun ke tahun. • Tiap sekolah atau institusi mungkin mempunyai format perbedaan dalam hal pendanaan, yakinkan bahwa hal ini sesuai dengan kebijakan yang ada.  Masukan pendanaan untuk buku atau koleksi yang rusak atau hilang. • Yakinkan bahwa setiap pengeluaran dana tercatat dengan baik untuk keperluan akuntabilitas. • Dokumen pendanaan akan sangat membantu kita dalam merancang pengeluaran operasional perpustakaan. • Yakinkan bahwa proses seleksi bahan pustaka memperhatikan rencana pendanaan yang ada. • Buatlah Diagram Alur Pendanaan yang menggambarkan semua proses selama 1 tahun misalnya. • Buatlah sebuah keterangan yang menunjukkan implikasi rencana pendanaan dengan tujuan kurikulum dan program sekolah.     4. Fasilitas Fasilitas perpustakaan menjadi sisi lain yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan perpustakaan. Seringkali yang terjadi masalah perpustakaan adalah masalah ‘ketiadaan’ atau ‘ketidakberdayaan’ fasilitas. Mulai dari ketiadaan tempat, ketiadaan koleksi, ketiadaan sarana pendukung, dan sarana prasarana lainnya. Biasanya tiap level sekolah mempunyai karakteristik masing-masing dalam perencanan fasilitas. Namun yang penting dalam pengelolaan fasilitas harus diperhatikan 3 hal yakni: - Nyaman (Comfort) - Terbuka (Welcome) - Kemudahan bagi pengguna (User-friendly)   Ketika kita merancang sebuah fasilitas untuk perpustakaan sekolah, setidaknya ada beberapa prinsip yang harus dipenuhi: • Tata letak harus dapat menunjukkan bahwa perpustakaan dapat difungsikan dengan baik. • Desain harus memperhatikan aspek estetika dan ergonomis. • Akses ke bahan pustaka ruang, dan informasi harus mudah bagi semua pengguna. • Harus diperhatikan masalah arus ‘lalu-lintas’ pengguna, keselamatan dan keamanan. • Ruangan sedapat mungkin mengakomodir kebutuhan pengguna, juga tentunya untuk keperluan penyimpanan dan pengolahan.   Namun demikian guru-pustakawan dapat mengeksplorasi sendiri kebutuhan dan juga hal-hal lain menyangkut fasilitas ini. Ya mungkin dengan terlebih dahulu melihat kemampuan dan kemauan sekolah dalam pengembangan perpustakaan sekolahnya. 5. Manajemen SDM Faktor lain yang penting dalam pengelolaan perpustakaan sekolah adalah masalah sumber daya manusia (SDM) yang mengelolanya. Kita sering menemui bahwa pekerjaan yang berhubungan dengan perpustakaan ‘hanya’ menjadi kerjaan ‘sampingan’ sehingga tidak dikelola secara baik. Bahkan dalam beberapa kasus ketiadaan SDM ini membuat sekolah sama sekali tidak memperdulikan adanya perpustakaan sebagai bagian integral dari sistem pendidikannya. SDM atau staf pengelola perpustakaan merupakan kunci utama dalam kesuksesan sebuah perpustakaan. Inovasi dan ide-ide kreatifnya akan membawa perpustakaan menjadi perpustakaan yang berdayaguna dan juga nyaman digunakan oleh murid maupun guru. Untuk itu, pengelolaan perpustakaan memang membutuhkan guru atau pengelola yang cukup tahu masalah manajemen, mempunyai ide-ide segar dan bekerja secara professional di perpustakaan. Setidaknya ada beberapa SDM dalam perpustakaan sekolah: - Guru Pustakawan: guru pustakawan merupakan orang yang bertanggungjawab secara penuh terhadap perpustakaan. Guru pustakawan harus mempunyai kemampuan untuk mengelola perpustakaan, memahami visi dan misi sekolah, dan juga memahami kurikulum yang diterapkan di perpustakaan. - Staf Pendukung: Biasanya diambilkan dari staf yang mempunyai kemampuan teknis dalam bidang perpustakaan, yang akan membantu guru-pustakawan dalam mengelola perpustakaan dalam keseharian. - Staf Divisi: Biasanya seorang staf yang mempunyai kemampuan khusus dalam pengelolaan perpustakaan, seperti dalam pembuatan OPAC, Katalogisasi, Pengelolaan koleksi referensi, Pengelolaan Koleksi Multimedia, Rancangan Program Khusus seperti “kemampuan membaca”, dan sebagainya. - Murid Pustakawan: Murid atau siswa juga dapat dijadikan pengelola perpustakaan terutama apabila adanya keterbatasan SDM di sekolah. Murid Pustakawan ini dengan diberikan pelatihan singkat dapat membantu paling tidak pelayanan di perpustakaan. 6. Perencanaan Perencanaan merupakan hal yang sangat penting dalam sebuah manajemen perpustakaan. Untuk itu mulailah selalu dengan perencanaan dalam pengelolaan perpustakaan sekolah. Perencanaan akan menentukan sejauh mana perpustakaan sekolah dapat berjalan dengan baik dan mendukung proses pembelajaran yang inovatif di sekolah. Penutup Dalam manajemen perpustakaan sebetulnya ada banyak faktor yang mempengaruhi kesuksesannya. Akan tetapi hal yang paling penting sebetulnya adalah sejauh mana pengelola dapat mensinergikan program-program perpustakaan dengan visi-misi sekolah serta kebutuhan kurikulum yang diterapkan. Proses manajemen perpustakaan adalah sebuah proses kreatif dan inovatif yang mesti menjadi bagian     Daftar Pustaka   Anonim. 2006. School Library Management. Canada: Saskatchewan schools. SULISTYO,Basuki. 1993. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Universitas Terbuka. Manajemen dan Tata Kerja Perpustakaan Sekolah. Jakarta : PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.

Runi Alcitra amalia Baca Selengkapnya
EKSISTENSI PERPUSTAKAAN KAFÉ : THE GROWING LIBRARY DALAM UPAYA MENUMBUHKAN MINAT BACA MASYARAKAT POSTMODERN
27 Jul 2018

EKSISTENSI PERPUSTAKAAN KAFÉ : THE GROWING LIBRARY DALAM UPAYA MENUMBUHKAN MINAT BACA MASYARAKAT POSTMODERN

Saat ini, kecenderungan yang telah terjadi dan masih tetap berlangsung dalam gaya hidup masyarakat postmodern adalah gaya hidup yang mengacu pada kehidupan modern di kota metropolitan seperti Jakarta. Salah satu gaya hidup yang mulai trend saat ini adalah bersosialisasi, berkumpul ataupun menikmati makanan dan minuman dengan suasana yang nyaman dan tenang. Budaya yang lebih dikenal dengan istilah “hang out” ini juga telah mempengaruhi gaya hidup sebagian besar masyarakat di kota lainnya. Kecenderungan lain yang juga sedang meningkat adalah kebiasaan membaca buku. Suatu trend yang juga bukan merupakan trend musiman, tetapi sudah menjadi kebutuhan yang bisa dipastikan kian lama kian meningkat dan menjadi standar gaya hidup masyarakat postmodern. Di tengah-tengah perkembangan postmodern, perpustakaan mulai banyak didirikan sebagai suatu tempat yang tidak hanya menyediakan berbagai koleksi-koleksi buku saja, melainkan juga didesain menjadi tempat yang mencerminkan gaya hidup masyarakat sebagai penggunanya. Salah satu inovasi adalah didirikannya perpustakaan kafé. Di kota metropolitan seperti Jakarta sudah mulai banyak didirikan perpustakaan kafé. Sebut saja The U Café, Bistro & Library, Nanny’s Pavilion Library, Bookopi, The Reading Room, Comic Café, Bookshelf dan Zoe Café. Adapun di kota besar lainnya seperti Bandung terdapat Potluck Coffee Bar & Library, Little Wings, dan Kineruku. Perpustakaan kafé adalah sebuah tempat yang didesain semenarik mungkin dengan konsep kafé dan resto dan banyak inovasi didalamnya yang dibuat dengan senyaman mungkin. Konsep yang dimiliki oleh perpustakaan kafé tidak dijumpai pada perpustakaan konvensional pada umumnya. Perpustakaan kafé diusung dengan mengutamakan faktor kenyamanan, baik dari sisi interior yang stylish maupun atmosfer didalamnya. Adanya inovasi oleh perpustakaan kafé membuat masyarakat postmodern tertarik untuk datang dan memanfaatkan fitur yang ditawarkan. Dengan ciri khas yang dimiliki oleh perpustakaan kafé dalam hal konsep pelayanan, manajemen, promosi, marketing serta feature lainnya dapat membangun citra baru bagi perpustakaan yang selama ini dicitrakan sebagai tempat yang serius dan tenang. Masyarakat postmodernpun dapat memilih dan lebih leluasa dalam memanfaatkan fasilitas perpustakaan kafé sesuai dengan kebutuhannya. Mereka dapat nongkrong sambil mengakses informasi melalui gadget dengan fasilitas free wifi, rapat sambil mengerjakan pekerjaan kantor atau sekolah, diskusi dengan teman sekolah atau teman kerja, nonton bareng, bedah buku atau hanya sekedar bersantai menikmati makanan dan minuman sambil membaca dengan pilihan berbagai jenis koleksi buku yang beragam seperti buku literature, buku desain, buku hobi, buku politik, majalah, novel hingga komik. Dengan berbagai macam nilai lebih yang dimiliki oleh perpustakaan kafé, membuat konsep perpustakaan menjadi lebih menarik dan bersahabat untuk masyarakat postmodern, dari yang awalnya malas untuk datang ke perpustakaan menjadi gemar berkunjung, menjadi betah dan ketagihan sehingga dapat mendukung dalam menumbuhkan minat baca masyarakat postmodern saat ini.

DIAH WIDYASTUTI Baca Selengkapnya
PERAN PERPUSTAKAAN DALAM MENUMBUHKAN MINAT BACA ANAK MELALUI KEGIATAN STORY TELLING
26 Jun 2018

PERAN PERPUSTAKAAN DALAM MENUMBUHKAN MINAT BACA ANAK MELALUI KEGIATAN STORY TELLING

Buku merupakan jendela dunia. Buku menghubungkan kita dengan dunia luar yang tidak kita ketahui sebelumnya. Sebagai contoh, kita tidak perlu pergi ke Roma untuk mengetahui seperti apa kota Roma. Dengan membaca buku ensiklopedia deskripsi kota Roma pun terefleksikan. Buku juga dapat membawa kita ke berbagai tempat di dunia tanpa harus mengeluarkan banyak uang. Dengan buku kita dapat menambah ilmu pengetahuan tanpa perlu beranjak. Salah satu contoh tersebut dapat menggambarkan betapa pentingnya keberadaan buku dalam dunia ilmu pengetahuan baik formal maupun non formal. Hampir sebagian besar anak-anak familiar dengan keberadaan buku dalam kesehariannya. Sewaktu usia sekolah dasar mungkin kita merasa ikut berpetualang dengan Julian, Dick, Anne, George dan Timmy dalam buku Lima Sekawan atau ikut berfantasi melalui dongeng-dongeng putri, pangeran, peri, penyihir dan puteri duyung karya Hans Christian Andersen, atau tertawa geli oleh kisah dalam komik Asterix-Obelix nya Lucky Luke. Bahkan diantara kita pasti amat kenal dengan tokoh Paman Gembul dalam majalah Bobo. Hal ini menunjukkan bahwa bagaimanapun juga buku memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan anak-anak. Buku dapat mengembangkan imajinasi mereka untuk kreativitas. Selain itu juga memberikan pengetahuan-pengetahuan baru yang dapat menjadi pemicu bagi mereka untuk mengetahui dan mengenal dunia seluas-luasnya. Menyadari betapa besar manfaat buku bagi anak, maka diharapkan minat baca anak dapat terbentuk sejak dini. Melalui buku, mereka tidak mengalami kesulitan dalam mendapatkan informasi yang dibutuhkan setelah dewasa nanti. Mengingat banyaknya buku-buku yang diterbitkan khusus untuk anak-anak dari berbagai usia (bahkan usia bayi dan balita), karena itu tidak ada alasan untuk tidak memulai memperkenalkan bacaan sejak usia dini. Dalam hal ini peran perpustakaan sangatlah besar. Disamping menyediakan fasilitas untuk membaca, perpustakaan diharuskan dapat memotivasi anak-anak untuk cinta buku sehingga menjadi rajin membaca. Oleh karena itu perlu dibuatkan program yang dapat meningkatkan minat baca anak sejak usia dini. Program tersebut dapat memiliki tujuan sebagai berikut: Meningkatkan minat baca pada anak-anak; Anak-anak belajar untuk mulai membaca dan menikmati bacaan itu sendiri; Meningkatkan kreativitas anak; Terbentuknya insan-insan berkualitas dari kalangan anak-anak yang belajar untuk mencintai buku. Story telling adalah salah satu program yang dapat meningkatkan minat baca anak-anak sejak usia dini. Melalui story telling, kebutuhan imajinasi dan fantasi anak-anak dapat tersalurkan sehingga dapat memperluas wawasan dan cara berpikir anak-anak. Dengan adanya story telling yang dilaksanakan oleh perpustakaan, dapat menumbuhkan minat baca anak-anak dan kecintaan mereka terhadap buku.

DIAH WIDYASTUTI Baca Selengkapnya
THE IMPLEMENTATION OF MOBILE LIBRARY SERVICE IN THE AGENCY OF ARCHIVE AND LIBRARY OF BANGKA BELITUNG PROVINCE  ON MAY, 2018
1 Jun 2018

THE IMPLEMENTATION OF MOBILE LIBRARY SERVICE IN THE AGENCY OF ARCHIVE AND LIBRARY OF BANGKA BELITUNG PROVINCE ON MAY, 2018

Mobile library service is one of the services organized by the provincial library of Bangka Belitung Province regularly. This service is intended to overcome the information gap of local societies who are difficult to reach library. Through this activity, the local government is make efforts to provide information services to the society proactively in order to achieve one of the missions of the Agency of Archives and Library is to foster and develop a culture of reading. This activity’s targets are SD / MI, SMP / MTS, SMA / SMK / MA (both public and private schools) and villages library in the regencies: Bangka, Central Bangka, West Bangka and South Bangka. The procedures of mobile library service are: selected the duty officers (a librarian and a staff from the agency of archive and library). After that, both officers will visit the mobile library target which is issued in the Letter of Duty signed by the Head of Archives and Library Agency. At last, when they completed their duty, they are required to make a report of their activities.  Below are the targets of mobile library services that success to be implemented in May, 2018: NO TARGET DAY DATE NUMBER OF VISITOR OFFICERS 1 SD Negeri 1 Kelapa Kab. Bangka Barat Wednesday02 Mei 2018 104 Kasmadi, A.Md Nova Oktavia 2  SMPN 1 Namang Kab. Bangka Tengah Thursday 03 Mei 2018 65 Yulidar, SH  Riri Budiarti 3 SMP N 1 Airgegas Kab. Bangka Selatan Monday 07 Mei 2018 73 Riyad, S.Si., M.Pd Bagus Prambudi 4 SDN 1 Bakam Kab. Bangka Tuesday 08 Mei 2018 106 Mirza Riandiny, A.Md  Elwin Purnama 5 MTs Miftahul Jannah Pelangas Kab. Bangka Barat Wednesday 09 Mei 2018 50 Runi A. A, S.Sos Bagoes Pranantyo 6 SD N 5 Bakam Kab. Bangka Friday 11 Mei 2018 74 Cahya Tri Wulan, S.IP Rizal Rukanda 7 SMPN 2 Air Gegas Kab.  Bangka Selatan Monday 21 Mei 2018 35 Lizardi Agi Destari 8 SMPN 2 Namang Kab.  Bangka Tengah Tuesday 22 Mei 2018 52 Rustina Mia Maharani 9 SMPN 1 Kelapa Kab. Bangka Barat Wednesday 23 Mei 2018 129 Nurul Saparita Yosie Ekaria Bahtera 10 SMPN 1 Merawang Kab. Bangka Thursday 24 Mei 2018 74 Anggya D.P Stefano Rionaldo   In April 2018, mobile library has success to carry out 10 time mobile library services with the number of the visitors about 762 students. This number is expected will be continue to increase. This mobile library service is expected can help society in obtaining informations, can spread the information services and reading services up to the remote areas and can built a good cooperation among social, educational, and local government institutions in improving the intellectual and cultural society.

Cahya Tri Wulan (Penerjemah: Maria Ulfah) Baca Selengkapnya
THE IMPLEMENTATION OF MOBILE LIBRARY SERVICE IN THE AGENCY OF ARCHIVE AND LIBRARY OF BANGKA BELITUNG PROVINCE  ON APRIL 2018
2 Mei 2018

THE IMPLEMENTATION OF MOBILE LIBRARY SERVICE IN THE AGENCY OF ARCHIVE AND LIBRARY OF BANGKA BELITUNG PROVINCE ON APRIL 2018

Mobile library service is one of the services organized by the provincial library of  Bangka Belitung Province regularly. This service is intended to overcome the information gap of local societies who are difficult to reach library. Through this activity, the local government is make a try to provide information services to the society proactively in order to achieve one of the missions of the Agency of Archives and Library is to foster and develop a culture of reading. In 2018, Provincial Library starts the mobile library service on April. It is a bit late from its schedule as the beginning of administration year need to be completed. On this April, The school priority target is the primary schools / Madrasah Ibtidaiyah which are not in an examination activity. In addition, their teaching and learning schedule accordance with the mobile library visit schedule. For the areas, Mobile Libary service will visit: Bangka district, Central Bangka, West Bangka and South Bangka. The procedures of mobile library service are: selected the duty officers (a librarian and a staff from the agency of archive and library). After that, both officers will visit the mobile library target which is issued in the Letter of Duty signed by the Head of Archives and Library Agency. At last, when the officers completed their duty, they are required to make a report of their output activities. Below are the targets of mobile library services that success to be implemented in April 2018: NO TARGET DAY/DATE NUMBER OF VISITOR OFFICERS 1 SDN 1 Namang Kab. Bangka Tengah Tuesday 17April 2018 25 orang Dra. Rohayani, M.Pd Fatmawati, A.Md Fifi Noviani 2 SDN 11 Kelapa Kab. Bangka Barat Wednesday 18 April 2018 77 orang Nilawati, SIP Riri Budiarti 3 SDN 17 Sungaiselan Kab. Bangka Tengah Monday  23 April 2018 127 orang  Dra. Rohayani, M.Pd, Nurul Saparita Agi Destari 4 SDN 1 Tempilang Kab. Bangka Barat Tuesday 24 April 2018 130 orang  Aima, A.Md Berry Aprido Putra 5 SDN1 Simpang Rimba Kab. Bangka Selatan Wednesday  25 April 2018 152 orang  Rustina, S.Pd Donta Gustina 6 SDN 11 KOBA Kab. Bangka Tengah Thursday  26 April 2018 109 orang Uliarta Simanjuntak, S.Sos Arieyadi 7 SDN 21 Sungailiat  Kab. Bangka Friday 27 April 2018 74 orang Ema Riskika, A.Md Reny Angreini 8 SDN 1 Payung Kab. Bangka Selatan Monday  30 April 2018 125 orang Dra. Rohayani, M.Pd Riffa, A.Md In April 2018, mobile library has success to carry out 8 time mobile library services with the number of the visitors about 819 students. This number is expected will be continue to increase. This mobile library service is expected can help society in obtaining informations, can spread the information services and reading services up to the remote areas and can built a good cooperation among social, educational, and local government institutions in improving the intellectual and cultural capabilities of the society.

Cahya Tri Wulan (Penerjemah: Maria Ulfah) Baca Selengkapnya