Artikel

Kumpulan artikel informatif seputar pemerintahan, teknologi, dan layanan publik di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Pentingnya Pendataan Perpustakaan
5 Des 2022

Pentingnya Pendataan Perpustakaan

Apa Nomor Pokok Perpustakaan (NPP) itu? Nomor Pokok Perpustakaan  merupakan kode identitas khusus pada setiap unit perpustakaan di seluruh Indonesia di bawah koordinasi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yang ditetapkan berdasarkan kode area provinsi, kabupaten/ kota dan kode unik untuk jenis perpustakaan tertentu. Aplikasi pendataan perpustakaan sudah diselenggarakan sejak tahun 2013. Namun sejak tahun 2022 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia meluncurkan aplikasi pendataan perpustakaan berbasis wilayah, dimana aplikasi ini merupakan pengembangan dari aplikasi sebelumnya. Aplikasi Pendataan Berbasis Wilayah merupakan sistem informasi pangkalan data yang berisi profil kelembagaan berbagai jenis perpustakaan yang dapat diakses dan dimutakhirkan secara online sehingga pengembangan, pembinaan dan pengelolaan kelembagaan perpustakaan perwilayah dapat dipantau secara real time. Untuk mendapatkan Nomor Pokok Perpustakaan hendaknya perpustakaan mendaftar dulu melalui aplikasi pendataan perpustakaan yaitu https://data.perpusnas.go.id/. Sebelum mendaftarkan perpustakaan ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi perpustakaan yaitu: 1) Memiliki koleksi perpustakaan yang bervariasi. Syarat ini tidak ada batasan jumlah minimal dan jenis koleksi; 2) Memiliki sarana dan prasarana perpustakaan. Syarat ini berupa tersedianya ruang perpustakaan tanpa adanya batasan luas ruang; 3) Melakukan layanan rutin. Layanan rutin dapat berupa layanan baca ditempat atau layanan keliling; 4) Memiliki tenaga pengelola perpustakaan. Tenaga perpustakaan dapat berupa pustakawan, tenaga perpustakaan dan pemilik/ pendiri perpustakaan; 5) Memiliki sumber pendanaan. Sumber pendanaan dapat berasal dari APBN, APBD, donasi atau dana pribadi pemilik perpustakaan tanpa adanya batasan jumlah dana. Setelah memenuhi persyaratan tersebut perpustakaan diperbolehkan untuk mengaju permohonan memperoleh Nomor Pokok Perpustakaan (NPP). Adapun syarat untuk mengajukan NPP yaitu perpustakaan harus memiliki SK Pendirian Perpustakaan atau Surat Keterangan Domisili/ Keberadaan Perpustakaan yang disahkan oleh minimal Kepala Lembaga atau Pejabat Daerah setempat. SK Pendirian Perpustakaan (sesuai dengan ketentuan Norma Standar Prosedur Kriteria (NSPK) perpustakaan) berlaku untuk perpustakaan umum, perpustakaan sekolah/ madrasah/ pondok pesantren, perpustakaan perguruan tinggi dan perpustakaan khusus baik di lembaga pemerintah dan non pemerintah/swasta. Keterangan Domisili/ Keberadaan Perpustakaan berlaku untuk perpustakaan komunitas atau Taman Bacaan Masyarat (TBM), perpustakaan rumah ibadah, perpustakaan LSM. Surat Keterangan Domisili/ Keberadaan Perpustakaan dapat berasal dari pengurus RT/ RW setempat atau lembaga induk dari lembaga / organisasi yang bersangkutan. Agar proses pengelolaan pendataan perpustakaan berjalan dengan baik dan berkesinambungan perpustakaan harus memperhatikan pengelola perpustakaan yang diberikan tanggung jawab untuk mengelola akun pendataan perpustakaan. Pengelola perpustakaan yang diberikan tanggung jawab untuk mengelola akun tersebut harus memenuhi beberapa persyaratan antara lain: 1) Bekerja di perpustakaan dan dibuktikan dengan Surat Keterangan (SK) atau Surat Tugas (ST) dari pimpinan atau pejabat daerah setempat; 2) Dapat mengoperasikan komputer termasuk aplikasi umum seperti aplikasi perkantoran dan aplikasi perambah (browser) internet; 3) Mengerti tata cara pengambilan titik koordinat suatu lokasi atau tempat pada fitur maps atau peta online. Adapun tahapan dalam aplikasi pendataan perpustakaan berbasis wilayah antara lain: 1) Registrasi akun user, hubungkan perpustakaan, daftarkan perpustakaan; 2) Validasi perpustakaan; 3) Verifikasi perpustakaan; 4) Pengajuan NPP; 5) Pelengkapan seluruh data; 6) Sertifikat NPP digital; 7) Simulasi Standar Nasional Perpustakaan. Untuk melakukan validasi dan verifikasi perpustakaan adalah admin wilayah yang ditugaskan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Admin wilayah ada 3 (tiga) antara lain: 1) Admin pusat adalah admin pada tingkat pusat yang berada di Perpustakaan Nasional; 2) Admin wilayah provinsi dan kabupaten/ kota adalah admin pada tingkat provinsi atau kabupaten/ kota yang berada di masing-masing Dinas Perpustakaan Provinsi atau kabupaten/ kota; 3) Admin perpustakaan adalah admin pada tingkat perpustakaan. Admin perpustakaan merupakan akun pengguna yang sudah terhubung dengan akun perpustakaan. Admin wilayah mempunyai tugas antara lain: 1) Menyetujui/Menolak permohonan hubungkan perpustakaan; 2) Memvalidasi/Menolak permohonan registrasi perpustakaan; 3) Modifikasi data perpustakaan di wilayahnya; 4) Menambahkan data perpustakaan di wilayahnya; 5) Menonaktifkan data perpustakaan di wilayahnya. Perpustakaan yang sudah terdaftar dalam aplikasi pendataan berbasis wilayah oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dapat memperoleh beberapa manfaat yaitu: 1) Teridentifikasinya keberadaan perpustakaan; 2) Perpustakaan dapat melaporkan perkembangan perpustakaannya melalui update informasi profil atau pemutakhiran data; 3) Perpustakaan yang memiliki NPP akan diutamakan untuk mendapatkan program pembinaan dan pengembangan urusan perpustakaan; 4) Mempunyai hak untuk memasang NPP pada papan nama perpustakaan. Pendataan perpustakaan ini penting dilakukan untuk mengetahui kondisi semua jenis perpustakaan di Indonesia. Pendataan perpustakaan berbasis wilayah merupakan salah satu upaya Perpustakaan Nasional untuk memperbaiki tata kelola data agar terciptanya satu data perpustakaan. Dengan adanya aplikasi pendataan perpustakaan berbasis wilayah dilakukan sebagai tindak lanjut Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun 2019 tentang Satu Data Indonesia. Data ini akan digunakan sebagai masukan dalam pembinaan dan kebijakan pengembangan perpustakaan di Indonesia.   DAFTAR PUSTAKA Wahyudi, Agus dkk (2022). Pedoman Pengelolaan Aplikasi Pendataan Perpustakaan Berbasis Wilayah. Jakarta: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. https://www.perpusnas.go.id/newsdetail.php?lang=id&id=1811130400387Jba0Ox9fN

Emariskika, Pustakawan DKPUS Prov. Kep. Babel Baca Selengkapnya
Keharmonisan dalam Keragaman Budaya yang ada di Kabupaten Belitung
2 Des 2022

Keharmonisan dalam Keragaman Budaya yang ada di Kabupaten Belitung

  Kabupaten Belitung merupakan salah satu kabupaten yang berada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Secara geografis, Kabupaten Belitung terletak antara 1070 08’ Bujur Timur sampai 1070 58’ Bujur Timur dan 020 30’ Lintang Selatan sampai 030 15’ Lintang Selatan dengan luas daratan seluruhnya 229.369 hektar. Adapun batas wilayah di sebelah Utara dibatasi oleh Laut Cina Selatan, sebelah Timur oleh Kabupaten Belitung Timur, sebelah Selatan oleh Laut Jawa dan di sebelah Barat oleh Selat Gaspar. Wilayah Kabupaten Belitung terdiri dari 5 (lima) kecamatan yaitu Kecamatan Tanjungpandan yang juga merupakan ibukota kabupaten, Kecamatan Sijuk, Kecamatan Badau, Kecamatan Membalong, dan Kecamatan Selat Nasik. Kabupaten Belitung juga terbagi atas wilayah desa dan kelurahan. Sampai saat ini, Kabupaten Belitung memiliki 42 Desa dan 7 Kelurahan yang tersebar di 5 kecamatan.Masyarakat Belitung yang bermacam-macam etnis telah sekian lama berbaur dan bisa hidup berdampingan. Keanekaragaman adat istiadat yang ada membuat pulau Belitung begitu kaya akan seni budaya. Masyarakat Belitung pada umumnya terdiri dari berbagai suku seperti melayu, tionghoa, bugis dan berbagai suku lainnya. meskipun didominasi oleh suku melayu, namun demikian untuk perkembangan seni budaya dari masing-masing suku tetap terpelihara dengan baik. Corak budaya yang dominan di Kabupaten Belitung dan Pulau Belitung pada umumnya adalah budaya Melayu Belitong. Beberapa ekspresi kebudayaan yang khas di Kabupaten Belitung diantaranya: Maras Taun, Nirok Nanggok, Selamat Kampong, Pantun Berebut Lawang, Beripat Beregong, Campak Darat, Dul Mulok, Stambul Fajar, Gambus, Tari Sepen, Hadra, Rudat, dan Tari Zapin Belitong. Kabupaten Belitung memiliki keragaman etnis yang masing-masing memiliki ekspresi kebudayaan yang khas, diantaranya: Suku Sawang/Suku Laut dengan Ritual Muang Jong, Etnis Cina/Tjonghoa dengan Tradisi Sembayang Rebut dan Barongsai, Suku Bugis yang masih memegang erat Tradisi perkawinan Bugis, serta Suku Jawa dengan budaya yang pada mulanya hanya di lingkungan keturunan bangsawan, seperti Tangga Tebu. Selain budaya Melayu, Belitung juga memiliki Budaya Tionghoa. di Bangka agak sedikit berbeda dengan Tionghoa di Belitung. Orang Tionghoa di Bangka didatangkan pada awal abad ke-18 ketika pertambangan resmi dibuka. Mereka umumnya tidak membawa istri sehingga menikahi penduduk bumiputera, sehingga Tionghoa di Bangka sebagian besar merupakan peranakan yang berbicara Bahasa Hakka yang bercampur Bahasa Melayu. Sebagian besar etnis Tionghoa di Bangka Belitung didominasi Orang Hakka dengan minoritas Orang Minnan (Hokkian). Meski memiliki keberagaman budaya yang berbeda, kedua etnis ini dapat hidup berdampingan dengan damai. Mereka saling menghargai budaya masing-masing, termasuk dalam menjalankan ibadah dan kepercayaannya.

Anggya Dwie Permatasari, S.I.Pust, Pustakawan DKPUS Baca Selengkapnya
Lomba Perpustakaan sebagai Ajang Promosi Pustaka Cendikia SMAN 1 Payung
28 Nov 2022

Lomba Perpustakaan sebagai Ajang Promosi Pustaka Cendikia SMAN 1 Payung

Perpustakaan sekolah bertujuan menyediakan pusat sumber belajar sehingga dapat membantu pengembangan dan peningkatan minat baca, literasi informasi, bakat serta kemampuan peserta didik. Keberadaanya sebagai salah satu komponen pendidikan merupakan suatu keharusan. Perpustakaan sekolah merupakan sarana penunjang pendidikan yang diselenggarakan oleh sekolah melalui ketersediaan koleksi bahan-bahan pustaka yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran sehingga tercapainya tujuan pendidikan sekolah. Promosi perpustakaan adalah mekanisme komunikasi persuasif pemasaran dengan memanfaatkan teknik-teknik hubungan masyarakat (Hartono, 2016: 208). P romosi perpustakaan perlu dilakukan supaya seluruh aktivitas yang berhubungan dengan jasa perpustakaan dapat diketahui dan dipahami oleh pengguna. Promosi merupakan tempat pertukaran informasi antara organisasi dan konsumen yang bertujuan memberi informasi tentang produk atau jasa yang disediakan oleh organisasi dan membujuk konsumen untuk tertarik terhadap produk atau jasa tersebut. SMAN 1 Payung adalah Sekolah Menengah Atas yang beralamat di Jalan Mayor Syafri Rahman Desa Payung Kecamatan Payung Kabupaten Bangka Selatan dan berdiri pada tahun 2003. Kepala sekolah pertama SMAN 1 Payung adalah Bapak Drs. Ali Idrus, kemudian Bapak Faurani, S.Pd dan dilanjutkan Bapak Yadi, S.Pd. Sejak tahun 2012 hingga saat ini SMAN 1 Payung dipimpin oleh Bapak Nurhasan, S.Pd. Perpustakan SMAN 1 Payung berdiri ditahun yang sama dengan  SMAN 1 Payung tahun 2003. Perpustakaan SMAN 1 Payung bernama “Perpustakaan Pustaka Cendikia SMAN 1 Payung”. Berbagai upaya dilakukan Perpustakaan Pustaka Cendikia SMAN 1 Payung dalam mempromosikan perpustakaan salah satunya adalah dengan mengadakan Lomba. Di hari jadi yang ke-19, perpustakaan Pustaka Cendikia mengadakan berbagai macam lomba, ada lomba eksternal (peserta dari luar) sekolah dan internal (peserta dari dalam sekolah). Lomba eksternal antara lain: 1) Lomba mewarnai tingkat TK sekecamatan Payung; 2) Lomba Cerdas Cermat tingkat SD/MI sekabupaten Bangka Selatan; 3) Lomba Senam Kreasi tingkat SMP sekabupaten Bangka Selatan. Lomba internal antara lain: 1) Lomba Mural kelas XII IPA/ IPS; 2) Lomba Pojok Baca Kelas dari kelas X, XI, dan XII; 3) Lomba Desain Poster kelas XII; 4) Lomba Slogan Motivasi kelas XI dan XII. Perpustakaan Pustaka Cendikia SMAN 1 Payung mengadakan lomba tujuannya untuk meningkatkan kreativitas siswa dalam bidang literasi dan meningkatkan minat baca siswa. Dengan adanya lomba ini diharapkan dapat memperluas wawasan mengenai literasi dan dapat memotivasi peserta mengenai pentingnya berliterasi. Selain itu sebagai upaya untuk membangkitkan semangat belajar, berkompetisi menumbuhkan kemandirian dan semangat berinovasi dikalangan peserta didik. Ada berbagai macam promosi perpustakaan antara lain: 1) Melalui media cetak; 2) Melalui media elektronik; 3) Mengadakan/ mengikuti pameran; 4) Mengadakan/ mengikuti lomba; 5) Membangun kerjasama dengan berbagai pihak; dan lainya. Diharapkan untuk ke depannya Perpustakaan Pustaka Cendikia SMAN 1 Payung terus melakukan kegiatan promosi dan program kegiatan secara rutin agar perpustakaan semakin berkembang, lebih maju dan dikenal oleh masyarakat luas.    DAFTAR PUSTAKA Hartono. Manajemen Perpustakaan Sekolah, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2016. Wawancara dengan pengelola Perpustakaan Pustaka Cendikia SMAN 1 Payung.

Emariskika, Pustakawan DKPUS Prov. Kep. Babel Baca Selengkapnya
Literasi Sains
24 Nov 2022

Literasi Sains

Kemampuan berliterasi menjadi salah satu capaian pembelajaran dalam kurikulum merdeka, bahkan sejak di jejang satuan pendidikan anak usia dini (PAUD/Sederajat). Kemampuan berliterasi tidak hanya sebatas dengan kemampuan membaca dan menulis saja, namun, terdapat 6 (enam) kemampuan literasi dasar yang harus di capai peserta didik dalam kurikulum merdeka. Salah satunya adalah kemampuan dalam literasi sains. Literasi sains dapat diartikan sebagai pengetahuan dan kecakapan ilmiah untuk mampu mengidentifikasi pertanyaan, memperoleh pengetahuan baru, menjelaskan fenomena ilmiah, serta mengambil simpulan berdasar fakta, memahami karakteristik sains, kesadaran bagaimana sains dan teknologi membentuk lingkungan alam, intelektual, dan budaya, serta kemauan untuk terlibat dan peduli terhadap isu-isu yang terkait sains (OECD, 2016). National Research Council (2012) menyatakan bahwa rangkaian kompetensi ilmiah yang dibutuhkan pada literasi sains mencerminkan pandangan bahwa sains adalah ansambel dari praktik sosial dan epistemik yang umum pada semua ilmu pengetahuan, yang membingkai semua kompetensi sebagai tindakan. Literasi sains merupakan bagian dari sains, bersifat praktis, berkaitan dengan isu-isu tentang sains dan ide-ide sains. Warga negara harus memiliki kepekaan terhadap kesehatan, sumber daya alam, kualitas lingkungan, dan bencana alam dalam konteks personal, lokal, nasional, dan global. Dari sini kita bisa melihat bahwa cakupan literasi sains sangat luas, tidak hanya dalam mata pelajaran sains, tetapi juga beririsan dengan literasi lainnya. Segala bentuk kejadian nyata yang bisa dilihat secara langsung dan kemudian terjadi hal serupa di daerah lain, kota lain, bahkan negara lain di seluruh dunia. Maka sudah termasuk ke dalam contoh fenomena Menurut wikipedia, Fenomena alam adalah peristiwa non-artifisial dalam pandangan fisika, dan kemudian tak diciptakan oleh manusia, meskipun dapat memengaruhi manusia (mis. bakteri, penuaan, bencana alam). Contoh umum dari fenomena alam termasuk letusan gunung berapi, cuaca, dan pembusukan. Sedangkan pada KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) menjelaskan bahwa fenomena sosial adalah  kejadian nyata yang dapat dilihat secara langsung melalui panca indra dan dapat dijelaskan dalam penelitian bersifat ilmiah. Dalam kehidupan bermasyarakat tentunya akan menjumpai banyak fenomena sosial atau kejadian-kejadian yang berkesan dan berpengaruh besar sedang terjadi. Fenomena dalam kehidupan sosial bisa dalam bentuk hal-hal atau kejadian yang positif bisa juga negatif. Munculnya fenomena ini sendiri dipicu oleh banyak faktor, yang kemudian bentuknya semakin kompleks dan memberi pengaruh yang cukup besar. Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan fenomena sosial? Lalu, seperti apa contoh dari fenomena sosial yang ada di sekitar kita? Selain itu, literasi sains juga mencakup tentang kecakapan dan pengetahuan dalam mengambil keputusan yang tepat secara ilmiah supaya dapat mencapai kehidupan yang lebih nyaman, sehat dan lebih baik. Dikutip dari laman gln.kemendikbud.go.id, literasi sains sangat penting karena bertujuan untuk menumbuhkan pemikiran yang kritis, kecakapan dalam menyelesaikan masalah dengan kreatif. Selain itu juga menumbuhkan sikap bekerja sama dengan orang lain sesuai dengan asas kebersamaan, serta membantu berkomunikasi dengan lebih baik. literasi sains juga membuat kita mampu memilih informasi ilmiah yang tepat, memahami gambar, bagan dan tabel pada informasi ilmiah. Serta menilai kebenaran sebuah temuan dari informasi ilmiah, apakah informasi ini berdasarkan data dapat dipertanggungjawabkan? Atau apakah informasi ini disimpulkan dari penilitian yang dapat dipercaya? Dalam praktiknya, literasi sains juga perlu ditumbuhkan bersamaan dengan sikap-sikap ilmiah yang diantaranya; menumbuhkan rasa ingin tahu, berfikir kreatif selalu, berani mencoba apabila gagal, dan tidak berhenti untuk belajar.

Komunikasi Dalam Dunia Perpustakaan
23 Nov 2022

Komunikasi Dalam Dunia Perpustakaan

Komunikasi sangat penting dalam kehidupan, terutama dalam menghadapi perubahan sosial. Setiap daerah tentu pernah mengalami perubahan sosial dan pasti mengalami proses komunikasi. Permasalahannya adalah perubahan sosial tersebut dapat terjadi apabila suatu daerah mengadaptasi pembaruan tertentu dalam komunikasi. Komunikasi pun menjadi berkembang. Peran komunikasi tidak terbatas pada komunikasi personal, melainkan juga pada tatanan komunikasi organisasi di mana terdapat peranan sentral di dalamnya. Oleh karenanya, komunikasi tidak sembarang bisa dilakukan tetapi harus memiliki landasan dan seni sehingga apa yang ingin dikomunikasikan dapat ditanggap dengan baik oleh penerima. Untuk itulah, ilmu komunikasi diperlukan. Ilmu komunikasi berawal sejak retorika terlahir sebagai pengetahuan dan seni berbicara secara lisan, tatap muka dalam konteks publik (Effendy, 2000). Ilmu dan seni dalam menyampaikan pesan ini kemudian berkembang bukan saja dalam tataran tatap muka dengan publik, tapi juga melalui media massa (Budi, 2010). Hal yang dipelajari dari ilmu komunikasi ini adalah komunikasi dalam berbagai tingkatan, mulai dari individu, media, periklanan, komunikasi interkultural, komunikasi media sosial hingga seni. Menurut Hafied Cangara (2000) bahwa komunikasi dibagi dalam 4 (empat) tipe, yakni komunikasi diri sendiri (Intrapersonal Communication), komunikasi antarpribadi (Interpersonal Communication), komunikasi publik (Public Communication), dan komunikasi massa (Mass Communication). 1. Komunikasi diri sendiri (Intrapersonal Communication) Tipe komunikasi ini adalah komunikasi yang terjadi dalam diri seseorang. Tipe ini sebenarnya belum dianggap sepenuhnya sebagai proses komunikasi, karena tipe ini sebenarnya adalah bentuk respon diri seseorang terhadap sesuatu hal, apakah yang terlihat, terdengar, maupun yang dirasakannya. Termasuk dalam proses pengambilan keputusan. Beberapa kalangan menilai hal ini sebagai aktivitas internal monolog bukan sebagai proses komunikasi (Asante, 1979). 2. Komunikasi antarpribadi (Interpersonal Communication) Komunikasi ini berlangsung antara dua orang tau lebih secara tatap muka. R. Wayne Pace (1979), “interpersonal communication is communication involving two or more people in fafe to face setting”. 3. Komunikasi publik (Public Communication) Komunikasi ini menunjukkan suatu proses dimana pesan-pesan yang disampaikan oleh pembicara dalam situasi tatap muka di depan khalayak yang lebih besar. 4. Komunikasi massa (Mass Communication) Tipe komunikasi ini berlangsung secara massal, dimana sumbernya biasanya berasal dari suatu lembaga tertentu dan ditujukan kepada khalayak umum secara massal, dan biasanya menggunakan alat-alat tertentu misalnya radio, televisi, maupun surat kabar.  Selain mempelajari komunikasi dalam berbagai tingkatan dan tipe, ilmu komunikasi juga mempelajari berbagai jenis komunikasi di antaranya komunikasi tertulis, komunikasi lisan, komunikasi non verbal, komunikasi satu arah, dan komunikasi dua arah. Selain itu, juga terdapat ilmu tentang teknik komunikasi seperti information of communication, persuasive of communication, dan  instruction of communication. Pada intinya terdapat berbagai cabang ilmu dalam ilmu komunikasi, tetapi hal yang diharapkan dari adanya ilmu komunikasi ini sudah jelas yakni agar individu dapat melakukan komunikasi yang baik di tingkat apapun mengingat komunikasi merupakan kunci untuk berhubungan dengan orang lain. Unsur Komunikasi dalam Perpustakaan Beserta Komponennya Komunikasi yang berlangsung di perpustakan terlihat dari adanya kontak dan hubungan antara pustakawan dan pemustaka, adanya pesan yang disampaikan dan diterima, dan adanya efek yang terjadi akibat diterimanya pesan melalui komunikasi tersebut. Aktivitas pelayanan informasi antara pustakawan dan pemustaka adalah salah satu bentuk kegiatan komunikasi di perpustakaan. Berdasarkan teori Harold D. Lasswell, syarat terjadinya komunikasi di antaranya terdapat komponen siapa (who) yang berarti komunikator, menyatakan apa (says what) dalam hal ini adalah pesannya, dengan media apa (in which hannell) menyatakan media yang digunakan untuk menyampaikan pesan, kepada siapa (to whom) yang menunjukkan kepada siapa pesan tersebut ditujukan, serta dengan efek bagaimana (with what effect) yang berarti efek yang ingin ditimbulkan dari kegiatan komunikasi tersebut. Berdasarkan teori tersebut, dapat disimpulkan bahwa komunikasi berlangsung sebagai upaya penyampaian pesan antara komunikator kepada komunikan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa proses komunikasi minimal memiliki tiga unsur yaitu komunikator, pesan, dan komunikan (Murniaty, 2006: 6). Berdasarkan teori tersebut, dapat dianalisis sebagai berikut: Komunikator di perpustakaan adalah pustakawan, yakni orang yang menyampaikan pesan. Pesan yang disampaikan oleh pustakawan adalah informasi yang berupa ilmu pengetahuan dan informasi yang lain, dimana terjadi komunikasi langsung secara tatap muka antara pustakawan dan pemustaka. Komunikan yang menjadi sasaran komunikasi adalah pemustaka di perpustakaan. Adapun efek yang dicapai oleh komunikator dengan memberikan informasi adalah agar pengetahuan, sikap, maupun perilaku pemustaka dapat berubah. Model komunikasi memiliki peran dalam pencapaian sistem pelayanan untuk meningkatkan minat baca pengunjung. Adapun model komunikasi yang dapat diterapkan di antaranya (1) Komunikasi satu arah, berupa penyampaian informasi yang dilakukan oleh pustakawan melalui media seperti gambar-gambar larangan di dalam perpustakaan dan media lainnya yang dapat dibaca secara langsung oleh para pengunjung di dalam ruangan layanan perpustakaan. (2) Komunikasi dua arah berupa komunikasi yang saling bergantian memberikan informasi. (3) Komunikasi multi arah berupa komunikasi yang berlangsung antara pustakawan dengan beberapa pemustaka yang saling berinteraksi melalui diskusi dalam ruangan layanan perpustakaan dengan jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, melalui media cetak atau elektronik sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak (Yulianti, 2017).   Daftar Pustaka Budi, R. 2010. Pengantar ilmu komunikasi. Makassar: Kretakupa Print. Cangara, H. 2000. Pengantar ilmu komunikasi. Raja Grafindo Persada. Jakarta Effendi, O. 1993. Ilmu, teori, dan filsafat komunikasi. Bandung: PT.Citra Aditya bakri. Murniaty. 2006. Proses komunikasi diperpustakaan. Murniaty. 2006. Aplikasi Paradigma Lasswell di perpustakaan. Pace, R. Wayne. 1979. Techniques for Effective Communication. Addison Wesley Publishing Company, Massachusetts. Stuart, Teresa M. 1987. Communication Process. Institute of Development Communication, University of the Philippines. Webster New Collogiate Dictionary. Yulianti, S. 2017. Model komunikasi pelayanan pustakawan terhadap pemustaka di dinas perpustakaan dan kearsipan provinsi sulawesi tenggara. Jurnal Ilmu Komunikasi UHO: Jurnal Penelitian Kajian Ilmu Komunikasi dan Informasi, 2(4).

Upaya Pemenuhan Kebutuhan Informasi bagi Pemustaka Melalui Penelusuran Naskah Kuno
21 Nov 2022

Upaya Pemenuhan Kebutuhan Informasi bagi Pemustaka Melalui Penelusuran Naskah Kuno

Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan khazanah budaya peninggalan masa lampau. Salah satu diantaranya adalah peninggalan dalam bentuk naskah-naskah lama dalam bentuk tulisan tangan. Naskah peninggalan masa lampau dapat dijumpai hampir di setiap daerah di Indonesia. Jumlah naskah peninggalan masa lalu tersebut sangat bervariasi dan dikenal dengan sebutan naskah kuno nusantara. Namun, naskah-naskah kuno milik Indonesia banyak diincar oleh asing. Meski sudah ada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang cagar budaya yang mengatur tentang larangan penjualan benda-benda cagar budaya, termasuk di dalamnya naskah-naskah kuno. Pada kenyataannya praktiknya masih terus terjadi. Naskah kuno mengandung berbagai informasi penting yang harus diungkap dan disampaikan kepada masyarakat. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan salah satu provinsi penyebaran naskah kuno yang keberadaannya tersebar di wilayah kabupaten maupun kota. Tim dari Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berupaya melakukan penelusuran dan penggalian naskah kuno yang tersebar di Kabupaten/kota tersebut. Daerah yang menjadi objek penggalian dan sudah ditelusuri tim naskah kuno adalah Desa Kimak Kabupaten Bangka, Desa Badau Kabupaten Belitung, Desa Penutuk Kabupaten Bangka Selatan, Sumur Dewi Kwan Yin, Kabupaten Bangka, dan Desa Namang Kabupaten Bangka Tengah serta Kesultanan Ternate dan Tidore Provinsi Maluku Utara. Tim penelusuran dan penggalian naskah kuno menemukan naskah-naskah kuno yang ditulis dalam bahasa aksara non-Latin dan bahasa daerah. Hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam memahami kesulitan dan fisik naskah. Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung membeli alat scanner yang berguna untuk mengungkap dan menyampaikan informasi yang terkandung di dalam naskah, kemudian disampaikan kepada masyarakat dalam upaya pemenuhan informasi bagi pemustaka perpustakaan. Naskah kuno merupakan koleksi langka yang dimiliki suatu perpustakaan. Di beberapa daerah, koleksi naskah kuno merupakan koleksi unggulan serta jarang ditemukan di perpustakaan lain. Naskah kuno juga menjadi favorit bagi para peneliti dan mahasiswa dalam menyelesaikan tugas akhirnya seperti pembuatan skripsi, tesis dan disertasi. Naskah kuno yang ditulis dengan tangan dan tidak ada copy (duplikatnya) membuat koleksi ini unik, langka dan menjadi salah satu sumber informasi yang memiliki nilai-nilai luhur sejarah serta dapat dijadikan pedoman untuk peningkatan kecerdasan intelektual, spiritual dan emosional bangsa Indonesia. Naskah kuno yang diperoleh tim penelusuran dan penggalian naskah kuno dengan berbagai bahasa, aksara ini perlu diselamatkan serta dijaga kelestariannya. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan melakukan scanning naskah dan menggandakan, serta membukukannya. Salah satu dukungan pemerintah pusat dalam hal ini Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (RI) memberikan bantuan dana untuk pembangunan Gedung layanan Perpustakaan ke Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Layanan gedung perpustakaan tersebut terdiri dari 4 (empat) lantai. Penggunaan untuk lantai 3 (tiga) tersebut, dimanfaatkan untuk memajang koleksi naskah kuno serta berbagai area perpustakaan lainnya. Bidang Pelestarian Koleksi Nasional dan Pelestarian Naskah Kuno mulai tahun ini berupaya mengalokasikan anggaran tidak sedikit untuk kegiatan penelusuran dan penggalian serta pelestarian naskah kuno yang belum tergali keberadaanya. Dengan turun langsung ke lapangan dan menemui tokoh-tokoh sejarah di daerah setempat merupakan upaya untuk terus menggali informasi naskah-naskah kuno yang belum terjangkau oleh tim penelusuran dan penggalian naskah kuno. Upaya ini tentunya memberikan pengaruh positif bagi pemustaka perpustakaan dan “penikmat” informasi mengenai penelusuran naskah kuno ini. Kegiatan penelusuran dan penggalian naskah kuno sebaiknya terus dilakukan dan digali, serta ditelusuri. Naskah yang diperoleh dirawat dengan baik sebagai bahan edukatif bagi penggunannya dalam hal ini pemustaka perpustakaan sebagai generasi muda penerus bangsa yang akan terus mewarisi tradisi regenerasi kepemimpinan dimasa mendatang  dan mengetahui, serta bangga dengan keanekaragam budaya yang didalamnya menyimpan “sujuta” informasi yang terkandung dalamnya. Melalui kegiatan penelusuran dan penggalian naskah kuno ini diharapkan adanya usaha-usaha kongkret baru untuk melestarikan naskah kuno dan cinta budaya sebagai sumber informasi bagi masyarakat terutama pemustaka perpustakaan.

Dian Ekatama, S.I.Pust., Pustakawan DKPUS Prov. Kep. Babel Baca Selengkapnya
Membangun Team Work yang Solid dengan Rasa Kebersamaan dan Saling Percaya
15 Nov 2022

Membangun Team Work yang Solid dengan Rasa Kebersamaan dan Saling Percaya

Hubungan kerja dapat diartikan sebagai hubungan yang terjadi antara bagian- bagian atau individu-individu baik antara mereka di dalam organisasi maupun antara mereka dengan pihak luar organisasi sebagai akibat penyelenggaraan tugas dan fungsi masing- masing dalam mencapai sasaran dan tujuan organisasi (Siwi Ultima Kadarmo dkk, 2001: 10). Sebuah organisasi memerlukan pemimpin sebagai figur dan menggerakkan sumber daya manusia agar langkah-langkahnya teratur pada suatu tujuan yang sama. Kepemimpinan berkaitan dengan proses yang disengaja dari seseorang untuk menekankan pengaruhnya yang kuat terhadap orang lain untuk membimbing, membuat struktur, memfasilitasi aktivitas dan hubungan di dalam kelompok atau organisasi (Yukl, 2005: 3). Perilaku komunikasi manajerial dari seorang pimpinan (atasan terhadap bawahan) adalah kemampuan untuk menyampaikan ide kepada seluruh staf, dengan maksud agar pesan atau ide yang disampaikan dapat difahami sesuai dengan isi pesan dimaksud. Pemimpin (leader head) adalah seseorang yang mempergunakan wewenang dan kepemimpinannya, mengarahkan bawahan untuk mengerjakan sebagian pekerjaannya dalam mencapai tujuan organisasi (Malayu SP Hasibuan, 2002: 169). Pada hubungan antar karyawan cenderung dinilai berdasarkan hubungan antara individu dengan individu lainnya dalam suatu organisasi atau dapat dikatakan perilaku individu dalam kelompok. Dalam hubungan ini terdapat suatu arah hubungan dari atas ke bawah (downward) dan dari bawah ke atas (upward) atau komunikasi dua arah (two way traffic), di samping itu terdapat komunikasi dari samping kiri ke samping kanan dan sebaliknya (later communication). Selain itu, lingkungan kerja merupakan salah satu faktor yang harus diperhatikan karena berkaitan erat dengan tinggi rendahnya semangat kerja para pegawai. Lingkungan kerja adalah suasana dimana para pegawai melaksanakan pekerjaan (Murti Sumarni, 2003: 72). Jika lingkungan kerja baik maka akan dapat memicu semangat kerja yang tinggi, pada akhirnya dapat meningkatkan kinerja pegawai. Lingkungan kerja terdiri dari: (a) Lingkungan Eksternal, (b) Lingkungan Internal, Griffin (2004: 68 - 78). Lingkungan kerja tidak jauh berbeda dengan kehidupan sosial lainnya. Pasti rentan terjadi konflik sosial antar sesama rekan kerja. Faktor penyebab konflik bisa karena kesalahpahaman, persaingan kerja, kecemburuan sosial, konflik kepentingan, asmara dan sebagainya. Bagaimanapun, suatu pekerjaan yang dikerjakan bersama dengan benar tentu akan terasa ringan dari pada dikerjakan sendiri. Memilih tim kerja yang berkualitas menjadi dasar untuk membangun team work yang solid. Mulailah dengan cara memilih team leader dengan jiwa kepemimpinan yang baik. Dengan tim kerja yang berkualitas seperti itu, maka semua tim yang telah dibentuk dapat saling mendukung dan berjalan bersama untuk mencapai target yang diinginkan. Memilih tim kerja yang berkualitas menjadi dasar untuk membangun team work yang solid. Kunci dari menciptakan tim kerja yang solid adalah rasa kebersamaan dan saling percaya antar anggota tim. Cara yang dapat dilakukan adalah memulai untuk saling berbagi kepada rekan satu tim dalam hal apapun, baik suka maupun duka. Hilangkan rasa curiga antar rekan satu tim dan mulailah untuk mengerjakan sesuatu bersama-sama. Team leader bisa mengajak tim makan atau keluar bersama sesekali untuk membuat tim lebih dekat dan akrab. Sifat saling menghargai juga perlu ditanamkan, khususnya pada hal-hal yang bersifat kepentingan personal dan mendesak, setiap anggota tim sebaiknya dapat memahami dan menghargai kepentingan tersebut. Dengan catatan, hal itu tidak mengganggu kinerja tim dalam menyelesaikan suatu project.    

Anggya Dwie Permatasari, Pustakawan Baca Selengkapnya
Perpustakaan Digital dan Penggunaan Teknologi Informasi
10 Nov 2022

Perpustakaan Digital dan Penggunaan Teknologi Informasi

Teknologi yang berkembang saat ini telah merubah berbagai bidang kehidupan dan profesi. Perubahan ini terlihat pada instansi pemerintah maupun di perusahaan swasta. Sentuhan teknologi di pemerintahan menjadi hal yang wajib dilakukan agar setiap pekerjaan dan pelayanan menjadi lebih efektif dan efisien, serta dapat meningkatkan produktivitas pekerjaan dan pelayanan. Dalam dunia pendidikan perkembangan teknologi ini sudah terlihat semenjak Covid-19, praktis kegiatan belajar mengajar yang biasa dilakukan secara tatap muka berbalik arah menjadi daring (dalam jaringan). Sarana dan prasarana yang ada di dunia pendidikan utamanya perpustakaan menjadi terkena dampak perkembangan teknologi informasi ini. Dahulu perpustakaan dikenal memiliki koleksi berbentuk cetak, tetapi kini teknologi informasi memberikan sentuhannya sehingga koleksi cetak beralih ke dalam koleksi digital. Hal ini terbukti dengan banyaknya provider penyedia buku yang beralih menyediakan koleksi buku elektronik (e-book). Buku elektronik dapat dinikmati jika pemustaka memiliki perangkat pendukung seperti laptop ataupun smartphone yang terhubung dengan jaringan internet. Teknologi yang berkembang membuat layanan internet juga semakin cepat berkembang,. Hal ini terlihat dari data pengguna internet di Indonesia pada tahun 2021 mencapai 203 juta pengguna, dan di tahun 2022 ini meningkat kembali menjadi 205 juta pengguna internet. Penggunaan internet di perpustakaan saat ini menjadi sangat penting. Perpustakaan akan dikunjungi jika memiliki jaringan internet. Secara harfiah, kata internet merupakan singkatan dari Inter­ connected Networking berarti rangkaian jaringan komputer yang terhubung di dalam beberapa rangkaian. Internet dapat diartikan sebagai jaringan komputer yang besar dan luas yang melingkupi seluruh dunia, antara satu pengguna komputer di suatu negara atau daerah akan terkoneksi dengan pengguna lainnya baik yang berada di satu daerah maupun di daerah lainnya. Dari latar belakang di atas maka penulis tertarik membahas perpustakaan digital dan penggunaan teknologi informasi. Pengertian Perpustakaan Pengertian perpustakaan menurut para ahli adalah sebuah ruangan, bagian sebuah gedung, ataupun gedung itu sendiri yang digunakan menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasa disimpan menurut tata susunan tertentu untuk digunakan pembaca bukan untuk dijual. Pendapat lain mengemukakan bahwa perpustakaan adalah institusi yang menyediakan koleksi bahan pustaka tertulis, tercetak dan terekam sebagai pusat informasi yang diatur menurut sistem aturan dan didayagunakan untuk keperluan pendidikan, penelitian serta rekreasi intelektual bagi masyarakat. Dari pengertian di atas jika ditarik kemasa kini dimana teknologi informasi semakin maju dapat disimpulkan bahwa perpustakaan berperan menyediakan, mengimpun baik itu berbentuk buku dan non buku sebagai sumber informasinya, serta perpustakaan mengolah menurut tata susunan tertentu, merawat dan memberikan pelayanan kepada pemustakanya. Perkembangan teknologi informasi di perpustakaan merupakan wujud nyata suatu perubahan pelayanan. Perubahan pelayanan yaitu perubahan pelayanan dalam pengelolaan dan pelayanan sirkulasi. Perubahan ini dapat memberikan semangat baru kepada perpustakaan untuk melakukan yang namanya modernisasi pelayanan dan modernisasi koleksi. Tuntutan yang besar ini dijadikan tantangan tersendiri bagi pustakawan untuk berkembang dan berbenah dalam memberikan pelayanan. Pustakawan dituntut melek teknologi. Mengapa? Ya karena pustakawan merupakan pelayan dari pemustaka, dan perpustakaan sebagai wadahnya harus memberikan dukungan akan perkembangan teknologi tersebut. Teknologi informasi juga memiliki banyak manfaat bagi perpustakaan antara lain sebagai peningkatan kualitas layanan, memberikan kamudahan dalam pengambilan keputusan serta pengembangan otomasi perpustakaan. Teknologi informasi juga sebagai tempat penyediaan informasi yang hemat, aman dan mudah diakses, baik secara manual maupun secara otomasi. Inti dari teknologi informasi di perpustakaan adalah untuk kemudahan pemustaka dalam memperoleh informasi walaupun terkadang penerapan teknologi dapat merubah kinerja dan aturan yang ada. Perkembangan teknologi merupakan suatu strategi yang terbaik saat ini di perpustakaan. Strategi perpustakaan itu adalah dengan mengembangkan konsep perpustakaan digital. Pengertian Perpustakaan digital itu sendiri adalah analog dari perpustakaan tradisional dalam hal keragaman dan kompleksitas koleksinya, isinya mesti berupa media elektronik, disimpan dalam bentuk yang biasa dilihat dan dapat diakses melalui jaringan. Sedangkan pendapat lain dari perpustakaan digital adalah sebuah sistem yang memiliki berbagai layanan dan objek informasi yang mendukung akses objek informasi tersebut melalui perangkat digital. Dari pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahawa perpustakaan digital itu koleksi berupa media elektronik yang dapat diakses melalui jaringan dengan mengunakan perangkat digital. Tujuan Perpustakaan Sedangkan tujuan perpustakaan digital adalah sebagai berikut: Satu, Untuk melancarkan pengembangan yang sistematis tentang cara mengumpulkan, menyimpan, dan mengorganisasi informasi dan pengetahuan dalam format digital. Dua, Untuk mengembangkan pengiriman informasi yang hemat dan efisien di semua sector. Tiga,  Untuk mendorong upaya kerjasama yang sangat mempengaruhi investasi pada sumber-sumber penelitian dan jaringan komunikasi. Empat, Untuk memperkuat komunikasi dan kerjasama dalam penelitian, perdagangan, pemerintah, dan lingkungan pendidikan. Lima, Untuk mengadakan peran kepemimpinan internasional pada generasi berikutnya dan penyebaran pengetahuan ke dalam wilayah strategis yang penting. Enam, Untuk memperbesar kesempatan belajar sepanjang hayat. Dari tujuan di atas sangat jelas bahwa perpustakaan digital lebih menekankan pada akses informasi, kemudahan akses serta kenyamanan dalam mengaksesnya. Manfaat Perpustakaan Sementara itu manfaat perpustakaan digital adalah: Satu, Penambahan koleksi lebih cepat dengan kualitas lebih baik. Dua, Dapat mempercepat akses sehingga informasi yang dibutuhkan dapat segera dimiliki dan dimanfaatkan oleh pengguna. Lebih bebas dan dapat memotong mata rantai administrasi untuk memperoleh informasi. Tiga,  Dapat diakses dimana saja, kapan saja asal ada komputer yang terkoneksi dengan jaringan. Empat, Pengguna dapat mengakses bukan hanya dalam format cetak tapi juga format suara, gambar, video dll. Perpustakaan digital dan penggunaan teknologi informasi saat ini berjalan beriringan dan tumbuh sangat cepat. Pertumbuhan ini dapat dilihat di berbagai perpustakaan baik perpustakaan umum, perpustakaan khusus dan perpustakaan perguran tinggi. Dimana perpustakaan tersebut telah menyediakan koleksi buku digital yang dapat dinikmati layaknya berkunjung keperpustakaan walaupun masih menggunakan perangkat pendukung. Perpustakaan digital merupakan tanda bahwa perpustakaan tersebut dapat berkembang ditengah gempuran teknologi informasi yang ada. Perpustakaan digital merupakan sebuah keniscayaan teknologi informasi yang terjadi dalam dunia perpustakaan.   Daftar Pustaka. (1)     Indonesia, D. Pengguna Internet di Indonesia Capai 205 Juta pada 2022. Dataindonesia.id. https://dataindonesia.id/digital/detail/pengguna-internet-di-indonesia-capai-205-juta-pada-2022 (accessed 2022-11-06). (2)     Rodhin, R. Internet dalam konteks perpustakaan. 2012, 4, 19. (3)     Sulistiyo Basuki. Pengantar Ilmu Perpustakaan; Gramedia: Jakarta, 1991. (4)     Wahyu Supriyanto, A. M.; Ahmad Muhsin. Teknologi Informasi Perpustakaan : Strategi Perancangan Perpustakaan Digital, cet. 5.; Kanisius: Yogyakarta. (5)     Yuadi, I. Paradigma, Konsep dan Teknologi Informasi yang Digunakan. 15. (6)     Prabowo, T. T. Mengenal perpustakaan digital. 2013, 14. (7)     Achmad. Perpustakaan Dijital: Tantangan Menawan Bagi Pustakawan.  

Jan Frist Pagendo Purba, Pustakawan UBB Baca Selengkapnya
Literasi Digital
18 Okt 2022

Literasi Digital

Saat ini, kita semua hidup dalam sebuah dunia yang terdigitalisasi. Banyak aktivitas kita yang mesti melibatkan teknologi dan perangkat digital. Maka, kecakapan digital perlu sekali kita miliki. Tanpa kecakapan digital, kita bakal tergagap-gagap menapaki dunia yang terdigitalisasi Salah satu literasi yang sangat dibutuhkan  adalah literasi digital. Seiring perkembangan teknologi yang terus berkembang pesat literasi digital menjadi syarat mutlak untuk dapat berinteraksi dengan masyarakat dunia saat ini. Seperti yang tercantum pada laman resmi Dirjen PAUD Kemdikbud RI literasi digital merupakan salah satu dari enam literasi dasar, Literasi digital adalah kecakapan menggunakan media digital dengan beretika dan bertanggung jawab untuk memperoleh informasi dan berkomunikasi. Sedangkan Menurut Wikipedia Literasi digital atau kemelekan digital (melek digital) adalah pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital, alat-alat komunikasi, atau jaringan dalam menemukan, mengevaluasi, menggunakan, membuat informasi, dan memanfaatkannya secara sehat, bijak, cerdas, cermat, tepat, dan patuh hukum sesuai dengan kegunaannya dalam rangka membina komunikasi dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari. Literasi digital tidak hanya tentang membaca dan menulis di perangkat digital, tetapi juga melibatkan mengetahui produksi kekuatan media lain, seperti merekam dan mengunduh video Teknologi hadir untuk memudahkan kehidupan kita. Dengan kata lain, teknologi diciptakan untuk memberi kita solusi atas masalah-masalah yang ada. Beragam teknologi digital dan perangkat digital diciptakan untuk menyelesaikan bermacam permasalahan yang ada di sekitar kita sehingga membuat kehidupan yang kita lakoni menjadi lebih mudah. Kita perlu memiliki kemampuan dalam soal memilih teknologi digital dan perangkat digital yang harus digunakan untuk membantu memudahkan kehidupan kita. Budaya membaca dan literasi digital akan  membuat individu menjadi lebih cermat ketika menghadapi informasi, dan mengenali berita hoaks. Hoaks biasanya diproduksi dengan judul bombastis untuk mencuri perhatian, dan meninggalkan kesan pembaca.  Postur berita tidak berimbang antara berita dan sumber berita. Jika sudah demikian akun dan website yang menerbitkan informasi tersebut harus diwaspadai, sebab kemudahan digitalisasi memungkinkan orang membuat akun palsu untuk menyebarkan informasi Menggunakan media digital mestinya diarahkan pada suatu niat, sikap, dan perilaku yang etis demi kebaikan bersama. Demi meningkatkan kualitas kemanusiaan. Jadilah masyarakat yang bijak dalam menggunakan sosial media. Jadilah pemutus konten negatif, sebarkan konten Positif. Dalam menggunakan teknologi digital, diperlukan etika digital (digital ethics) yang merupakan kemampuan individu dalam menyadari, mencontohkan, menyesuaikan diri, merasionalkan, mempertimbangkan, dan mengembangkan tata kelola etika digital dalam kehidupan sehari-hari. orangtua harus cerdas dalam mengenalkan berbagai teknologi digital. Penting juga bagi kita untuk memahami suatu aplikasi atau software terlebih dahulu sebelum menggunakanya. Menurut  Eti Sumiati dan Wijonarko, literasi digital telah membawa banyak manfaat bagi kehidupan masyarakat.  Manfaat tersebut di antaranya: Meningkatkan kemampuan individu untuk lebih kritis dalam berpikir serta memahami informasi, Meningkatkan kemampuan verbal individu. Literasi digital dapat meningkatkan daya fokus serta konsentrasi individu. Menambah kemampuan individu dalam membaca. Manfaat lain memiliki kemampuan literasi digital dapat membuat Anda lebih berwawasan, mampu berpikir kritis dan memahami informasi dengan baik, serta menambah penguasaan kosakata. Selain itu, kemampuan verbal, konsentrasi, dan kemampuan merangkai kalimat juga akan berkembang karena Anda banyak membaca informasi-informasi. Gunakan internet untuk meningkatkan kualitas diri dan menciptakan rasa aman dan nyaman terhadap informasi yang kita sebarkan melalui media sosial,”