Artikel

Kumpulan artikel informatif seputar pemerintahan, teknologi, dan layanan publik di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Literasi Budaya
19 Agt 2022

Literasi Budaya

Literasi menjadi kata yang seksi periode ini. Di arena pendidikan, Gerakan Literasi Sekolah yang mengintroduksi penguasaan literasi numerasi, sains, teknologi informasi, finansial, budaya dan kewarganegaraan, oleh karenanya pengenalan konsep literasi juga memiliki momentumnya saat perkembangan teknologi dan eskalasi kehidupan sosial politik di masyarakat memiliki kerumitannya tersendiri. Pancasila sebagai ideologi bangsa, paradigma bangsa dan identitas Indonesia tak ketinggalan mendapatkan tantangan yang tidak mudah. Sebagai bangsa yang besar, Indonesia harus mampu mengembangkan budaya literasi sebagai prasyarat kecakapan hidup abad ke-21 melalui pendidikan yang terintegrasi, mulai dari keluarga, sekolah, sampai masyarakat. Penguasaan enam literasi dasar yang ditetapkan oleh World Economic Forum pada tahun 2015 menjadi sangat penting tidak hanya bagi peserta didik, tetapi juga bagi orang tua dan seluruh warga masyarakat. Enam literasi dasar tersebut mencakup literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, dan literasi budaya dan kewargaan. Literasi budaya dan kewargaan menjadi salah satu unsur dari 6 literasi dasar yang harus dimiliki oleh pelajar. Literasi Budaya merupakan kemampuan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa . Sedangkan  Literasi Kewargaan adalah kemampuan dalam memahami hak dan kewajibannya sebagai warga negara. Keterampilan literasi ini menjadi hal yang penting untuk dikuasai di abad ke-21. Indonesia memiliki beragam suku bangsa, bahasa, kebiasaan, adat istiadat, kepercayaan, dan lapisan sosial. Contoh literasi budaya dan kewarganegaraan yang berada di lingkungan keluarga dan masyarakat: Melestarikan kebudayaan gotong royong dalam kerja bakti lingkungan desa Mengikuti kegiatan kesenian di lingkungan desa Mengadakan lomba kreasi tari dan kesenian lainnya dalam perayaan kemerdekaan RI atau kegiatan pendidikan Mengikuti acara bersih desa Melestarikan sikap saling tolong menolong sesama tetangga Gotong royong antar warga bila kegiatan pembangunan rumah maupun pemakaman warga yang meninggal Menggalakkan kegiatan membaca satu buku setiap hari di lingkungan sekolah Menjaga kebersihan sekolah Menerapkan budaya tidak mencontek pada saat ujian di sekolah Membiasakan diri menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam percakapan sehari-hari baik di sekolah maupun di rumah Tujuan dari kecakapan literasi budaya dan kewargaan adalah untuk menghadapi arus budaya global yang berpotensi menghilangkan budaya lokal mupun nasional, alat penghubung antar generasi, medium untuk memahami hak, kewajiban, peran, serta tanggungjawab dalam mendukung perubahan dan pembangunan negara Indonesia yang lebih baik, serta medium bahwa budaya Indonesia merupakan identitas sehingga tidak mudah hilang  Pentingnya Literasi Budaya dan Kewargaan, literasi budaya dan kewargaan sangat penting dalam menghadapi tantangan abad 21, yaitu : Kuatnya arus budaya global menghilangkan budaya-budaya lokal/nasional. Sebagai identitas bangsa. Sebagai alat untuk penghubung generasi terdahulu, sekarang, dan masa yang akan datang. Memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara untuk mendukung perubahan dan pembangunan Indonesia ke arah yang lebih baik. Dengan demikian sangat penting bagi kita untuk mempertahankan budaya dan jati diri bangsa. Oleh karena itu, literasi sangat penting diterapkan dalam lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Literasi budaya dan kewarganegaraan tidak hanya sebagai penyelamat budaya nasional tetapi juga membangun identitas bangsa Indonesia di tengah masyarakat global. Pada akhirnya akan terbentuk bangsa yang dapat beradaptasi dengan infiltrasi budaya asing. Seperti budaya korea yang saat ini sangat popular di kalangan generasi mudah Indonesia.

Prosedur Kerja Tim Penilai Pustakawan
30 Jul 2022

Prosedur Kerja Tim Penilai Pustakawan

Pustakawan merupakan sebuah profesi yang diberikan kepada seseorang berdasarkan pendidikan dan keahliannya di bidang perpustakaan. Seorang pustakawan memiliki tanggung jawab dalam mengolah dan memberikan pelayanan pada pengguna perpustakaan. Menurut keputusan Menpan Nomor 123/KEP/M.PAN/12/2002 Pustakawan disebut pejabat fungsional yang berkedudukan sebagai pelaksana penyelenggara tugas utama kepustakawanan pada unit-unit perpustakaan, dokumentasi, dan informasi pada instansi pemerintah. Jabatan pustakawan hanya diberikan pada seorang yang telah berstatus PNS. Pustakawan bekerja sesuai dengan aturan yang berlaku, dan setiap kinerja yang dilakukan seorang pustakawan sudah terukur sesuai jenjang jabatannya. Moekijat (2000: 48) menjelaskan kinerja pustakawan merupakan suatu proses pelaksanaan tugas pokok dari fungsi dengan cepat, tepat, mudah dan berkualitas, sebagai bentuk dari suatu tugas pokok yang harus diemban dan dipertanggungjawabkan sebagai wujud pelaksanaan kinerja yang harus ditingkatkan. Dalam meningkatkan kinerja pustakawan, dibutuhkan kemampuan dalam memahami aturan yang berlaku pada jabatan pustakawan. Pustakawan yang akan naik pangkat maupun jabatan terlebih dahulu menyusun Daftar Usul Penetapan Angka Kredit atau biasa disingkat dengan DUPAK. DUPAK merupakan daftar memuat prestasi kerja yang dicapai oleh pustakawan dan telah diperhitungkan angka kreditnya dalam kurun waktu tertentu untuk dinilai tim penilai. DUPAK berisi kelengkapan berkas administrasi yang sudah dibubuhi tanda tangan pejabat pengusul DUPAK, rekapitulasi harian, bulanan, tahunan, berkas pendukung serta bukti fisik. Setelah kelengkapan DUPAK terpenuhi, selanjutnya DUPAK dikirimkan langsung pada tim penilai angka kredit terdekat bagian sekretariat tim penilai. DUPAK yang telah diterima oleh sekretariat tim penilai kemudian diperiksa kembali kelengkapan administrasi dan berkas pendukung lainnya. Jika kelengkapan administrasi terpenuhi, maka sekretariat mendistribusikan dupak kepada tim penilai. Tim penilai merupakan tim yang dibentuk dan ditetapkan oleh pejabat yang berwenang dan bertugas menilai prestasi kerja Pustakawan. Nilai prestasi kerja pustakawan berupa angka kredit yang berasal dari butir kegiatan yang dilakukan seorang pustakawan. Butir kegiatan pustakawan tersebut telah diatur pada Permenpan No.9 Tahun 2014 Tentang Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka Kreditnya, Perka Perpusnas RI No.11 Tahun 2015 Tentang Petunjuk Teknis Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka Kreditnya, dan Permenpan No.13 Tahun 2019 Tentang Pengusulan, Penetapan, dan Pembinaan Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil. Berdasarkan aturan yang berlaku, untuk menilai kinerja pustakawan dibutuhkan tim penilai jabatan pustakawan. Untuk membentuk tim penilai dibutuhkan paling kurang 10 orang pustakawan. Pembentukan tim penilai terlebih dahulu harus mendapat rekomendasi dari Kepala Perpustakaan Nasional RI sebelum ditetapkan oleh pejabat yang berwenang. Adapun susunan anggota tim penilai terdiri dari : 1) Ketua merangkap anggota dari unsur teknis; 2) Wakil Ketua merangkap anggota; 3) Sekretaris merangkap anggota dari unsur kepegawaian; 4) Anggota paling kurang 4 orang. Dari susunan diatas, tim penilai jabatan pustakawan memiliki tugas untuk: 1) Menilai prestasi kerja pejabat fungsional pustakawan; 2) Melakukan validasi kesesuaian bukti fisik dan angka kredit yang diajukan; 3) Merekomendasikan penetapan angka kredit kepada pejabat yang berwenang menetapkan angka kredit; dan 4) Merekomendasikan kenaikan jabatan/pangkat pustakawan. Sebagai tim penilai jabatan pustakawan harus mengikuti perkembangan peraturan yang terkait dengan penilaian angka kredit. Tim penilai harus bekerja secara profesional dan tidak ada unsur tekanan dari pustakawan yang mengaju dupak. Penilaian yang dilakukan harus berdasarkan aturan yang berlaku pada jabatan pustakawan. Hasil penilaian mandiri oleh tim penilai kemudian akan diplenokan dalam forum untuk menghasilkan kesepakatan angka kredit yang diterima. Hasil rapat pleno tidak dapat diganggu gugat, dan tidak dapat diintervensi oleh pihak manapun. Rapat pleno menghasilkan rekomendasi untuk pustakawan yang mengajukan DUPAK apakah nilai kredit memenuhi syarat untuk naik pangkat/jabatan, alih kategori atau maintenance bagi pustakawan pengusul. Agar penilaian DUPAK berjalan lancar, pustakawan dan tim penilai harus memiliki  pemahaman  dan konsistensi  yang  benar  mengenai  prosedur  pengusulan  penilaian dan  penetapan  angka  kredit. Semoga prosedur kerja tim penilai pustakawan seperti yang dipapar di atas, dapat memberikan pemahaman bagi para pustakawan.  

Uliarta Simanjuntak, S.Sos, Pustakawan Madya DKPUS Babel Baca Selengkapnya
Pustakawan yang Dinilai dan Tim Penilai Pustakawan
27 Jul 2022

Pustakawan yang Dinilai dan Tim Penilai Pustakawan

  Pustakawan merupakan Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak untuk melaksanakan kegiatan kepustakawanan. Dari pengertian ini dapat disimpulkan bahwa pustakawan merupakan jabatan fungsional yang diakui oleh pemerintah Indonesia. Pustakawan memiliki keleluasaan dalam menjalani jenjang karirnya. Syarat kenaikan pangkat dan jabatan pustakawan ditentukan oleh jumlah angka kredit yang dikumpulkan dalam masa tertentu.  Jabatan fungsional pustakawan menurut Peraturan Kepala Perpustakaan Nasional nomor 11 tahun 2015 tentang petunjuk teknis jabatan fungsional dan angka kreditnya adalah jabatan yang mempunyai  ruang  lingkup,  tugas,  tanggung  jawab, wewenang,  dan  hak  untuk  melaksanakan  kegiatan kepustakawanan. Pustakawan yang dinilai seharusnya mengerti tentang peraturan yang berlaku dalam dunia pustakawan, yaitu Permenpan RB nomor 9 tahun 2014 tentang jabatan fungsional pustakawan dan angka kreditnya serta Perka Perpusnas RI nomor 11 tahun 2015 tentang petunjuk teknis jabatan fungsional pustakawan dan angka kreditnya. Pustakawan yang mengajukan dupak harus benar-benar berpedoman pada kedua peraturan ini. Dalam peraturan tersebut juga sudah dijelaskan dengan contoh lampiran bagaimana mengajukan dupak, contoh surat menyurat dan juga bukti fisik yang harus dilengkapi. Jika tidak sesuai dengan pedoman peraturan, kemungkinan besar dupak pustakawan tidak dilakukan penilaian pada periode berjalan dan harus melakukan pengajuan dupak di periode penilaian berikutnya. Jabatan fungsional pustakawan dibagi menjadi 2 jenis jenjang jabatan antara lain jabatan fungsional terampil dan jabatan fungsional keahlian. Untuk jabatan fungsional terampil dibagi tiga jenjang jabatan, yaitu pustakawan pelaksana dengan pangkat IIb-IId, pustakawan mahir dengan pangkat IIIa-IIIb dan pustakawan penyelia dengan pangkat IIIc-IIId. Sedangkan pustakawan keahlian terdiri dari empat jenjang yaitu pustakawan ahli pertama dengan pangkat IIIa-IIIb, pustakawan ahli muda dengan pangkat IIIc-IIId, pustakawan ahli madya dengan pangkat IVa-IVc dan pustakawan ahli utama dengan pangkat IVd-IVe. Setiap jenjang jabatan pustakawan memiliki kegiatan unsur yang dapat dinilai, dimana untuk jenjang pustakawan terampil memiliki 17 butir kegiatan,  pustakawan mahir memiliki 17 butir kegiatan, pustakawan penyelia memiliki 15 butir kegiatan. Sedangkan untuk pustakawan keahlian pustakawan Pertama 31 butir kegiatan, pustakawan muda 27 butir kegiatan, pustakawan madya 26 butir kegiatan, pustakawan Utama 10 butir kegiatan. Pustakawan, baik itu pustakawan terampil maupun keahlian untuk naik pangkat atau jabatan setingkat lebih tinggi harus mengumpulkan angka kredit sesuai dengan aturan yang berlaku, dan harus mencapai angka kredit yang ditentukan oleh peraturan Permenpan RB dan kepala perpustakaan nasional. Untuk dapat naik satu tingkat lebih tinggi, seorang pustakawan harus menyusun serta pengumpulkan dupak, dimana dupak tersebut akan dinilai oleh tim penilai pustakawan. Pengertian tim penilai adalah tim yang dibentuk dan ditetapkan oleh pejabat berwenang, dan bertugas menilai prestasi kerja Pustakawan. Apa saja peran tim penilai? Tim penilai sebagai filter peningkatan kualitas Pustakawan, sebagai ujung tombak untuk mengarahkan pengembangan karier pustakawan, menjadi bagian integral sistem pembinaan karier SDM aparatur. Dari peran tersebut sebagai tim penilai dibutuhkan profesionalitas dalam melaksanakan tugasnya agar tidak terjadi kesalahan dalam melakukan penilaian. Seorang tim penilai harus menguasai dan memahami tentang jabatan fungsional pustakawan dan angka kredit, kemampuan mengaplikasikan kemampuan kerja yang dimilikinya, memiliki etika bekerja, memiliki tanggung jawab dalam melaksanakan tugas, memiliki komitmen terhadap tugas, memiliki jiwa pengabdian kepada masyarakat. Seorang penilai juga harus memiliki prinsip. Penilaian harus berdasarkan aturan dan ketentun yang berlaku, penilai harus bersikap netral dan objektif, kebijakan yang menguntungkan pustakawan sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan berlaku, hindari rasa iri, dengki dan semacamnya. Jika prinsip ini dimiliki dan dilaksanakan seorang penilai, maka seorang penilai akan bekerja sesuai aturan yang telah ditetapkan oleh pembina perpustakaan yaitu perpustakaan nasional.    

Jan Frist Pagendo Purba, Pustakawan UBB Baca Selengkapnya
Literasi Moral
25 Jul 2022

Literasi Moral

Definisi literasi terus  berevolusi seiring dengan perkembangan peradaban manusia. Keberaksaraan tidak lah mengandung arti tunggal,  melainkan mengandung beragam arti (multi literacies). Ada bermacam-macam keberaksaraan atau literasi, misalnya literasi komputer (computer literacy), literasi media (media literacy), literasi teknologi (technology literacy), literasi ekonomi (economy literacy), literasi  informasi (information literacy), bahkan ada literasi moral (moral literacy). Jadi, keberaksaraan atau literasi dapat diartikan melek teknologi, melek informasi, berpikir kritis, peka terhadap lingkungan, bahkan juga peka terhadap politik. Seorang dikatakan literat jika ia sudah bisa memahami sesuatu karena membaca informasi yang tepat dan melakukan sesuatu berdasarkan pemahamannya terhadap isi bacaan tersebut. Pada puncaknya, literasi adalah kemampuan menciptakan barang dan jasa bermutu yang bisa dipakai dalam Perkembangan global tidak hanya membutuhkan manusia yang cerdas namun juga manusia yang bermoral. Manusia yang bermoral tidak muncul begitu saja. Sekolah menjadi salah satu lembaga pendidikan yang berperan penting  dalam  menanamkan  nilai-nilai  moral.  Nilai-nilai  moral  tersebut dapat  ditanamkan  dan  dikuatkan  dengan  membaca  bacaan  atau  wacana secara  kritis  atau yang  disebut  dengan  literasi.  Literasi,  termasuk  literasi agama  perlu diajarkan kepada  peserta  didik  agar  mereka dapat hidup  di tengah-tengah masyarakat modern ini. Dalam mempelajari nilai-nilai moral, peserta didik tidak hanya sekedar tahu dan melakukan tanpa tahu maksud dan  tujuan  nilai  tersebut  dilakukan.  Literasi  agama  selain  menumbuhkan minat membaca juga melatih peserta didik untuk bisa mengkritisi sumber ilmu terkait keagamaan atau nilai-nilai yang dia dapatkan baik dalam bentuk teks  (buku),  lisan,  visual,  maupun  digital.  Melalui  pemahaman  yang mendalam terhadap sumber-sumber ilmu tersebut dapat memilih berbagai alternatif nilai yang ada dan mengaplikasikannya sebagai wujud aktualisasi diri. Moral menurut Suseno dalam (Kurnia, 2015) adalah ukuran baik buruknya seseorang, baik sebagai pribadi maupun sebagai warga masyarakat, dan warga negara, sedangkan pendidikan moral adalah pendidikan untuk menjadikan anak manusia bermoral dan manusiawi. Guru mendidik, mengarahkan, sekaligus memberikan contohnyata kepada para siswa agar terbiasa hidup dengan moralitas keagamaan, sehingga para siswa dapat menunjukan budi pekerti yang baik seperti halnya saat berbicara dengan para guru, orang yang lebih tua darinya dan para teman sebayanya menggunakan perkataan dan perilaku yang sopan santun, berpakaian sesuai budaya dan agama.. Tentunya moralitas dan kemampuan intelektual keagamaan para siswa harus mampu membentuk karakter yang religious Menurut Lawrence Kohlberg ( Monks dan Knoers, 2011). Kemampuan  anak untuk mengenali perilaku dalam prinsip  moral diperlukan perkembangan anak untuk bersosialisasi meningkatkan perkembangan kepribadian yang terasah  dalam  perkembangan  bermasyarakat,  berteman dan  dalam  lingkungan sekitarnya,lembaga pendidikan sangatlah menentukan tercapainya  kualitas pendidikan dan  pembelajaran  kepada  peserta  siswa,  dalam  penyampaian  pembelajaran  berupa bentuk literasi moral juga dibutuhkan tahapan yang tidak  instan, karena literasi moral merupakan pembiasaan yang dilakukan secara kontinue kepada anak usia dini. Sehingga literasi berupa budi pekerti merupakan pedoman dasar sebagai benteng moral pada anak usia  dini,  dengan  adanya  pendidikan  moral  dilembaga  maka  literasi  akan  mengikuti dengan sendirinya sebagai wawasan dan dasar pengembangan literasi moral. Gerakan  literasi  dalam  sekolah  saat  ini  merupakan  upaya  pemerintah menumbuhkan budi pekerti peserta didik sebagai acuan untuk memiliki budaya akhlak atau moral  yang baik. Pancasila sebagai literasi moral dimaksudkan sebagai upaya dalam menginternalisasikan nilai-nilai Pancasila sebagai literasi kehidupan berbangsa dan bernegara, hingga akhirnya terbangun kepribadian dengan berdasarkan nilai-nilai moral Pancasila. Pancasila sebagai literasi moral pada pendidikan dasar juga bertujuan untuk mewujudkan pembudayaan Pancasila, sehingga Pancasila dalam hakikatnya tetap eksis sebagai dasar negara dan literasi moral yang bertumpu pada anak bangsa di pendidikan dasar Nilai moral yang dimiliki seseorang cenderung diperoleh dari lingkungan. Belajar dan diajar oleh lingkungan masyarakat mengenai bagaimana ia harus bertingkahlaku yang baik dan tingkahlaku yang tidak melenceng dari moral dan etika. Ketika diwaktu mereka banyak bergaul dengan dunia luar dan tidak bergantung kepada orang tua maka dengan adanya aspek lingkungan yang positif maka  akan turut berkembang dengan positif. Mereka dapat menilai dan intropeksi diri karena telah memiliki bekal pendidikan moral yang positif dari lingkungan masyarakat.

Literasi Media
22 Jun 2022

Literasi Media

Pergeseran teknologi konvensional ke digital menciptakan media baru yang berbasis internet yang berjejaring global. Saat ini kita dapat berkomunikasi secara interaktif  baik melalui smartphone, tablet maupun laptop. Semua video,audio, dokumen dan lain lain dapat kita lihat dengan cepat,serta menyebarkan nya kembali seketika itu juga. Kesadaran akan  dampak dari media  harus terpupuk sejak dini, sehingga kita dapat memilah-milah informasi atau pesan yang layak dibaca dan di sebar luaskan. Di era modern sekarang, arus informasi semakin cepat dan hampir tidak terkendali. Jaringan internet semakin luas serta biaya yang semakin kompetitif membuat dapat di jangkau berbagi lapisan masyarakat. Majunya perkembangan media dan teknologi yang sangat pesat termasuk literasi media kemudian memberi pengaruh yang besar dan mendominasi seluruh sektor kehidupan global tidak terkecuali Indonesia. Berbagai media yang mulai muncul  kemudian mampu membangun interaksi sosial dan terjadinya perubahan sosial.. Efek media massa akibat perkembangan teknologi komunikasi dan informasi bisa positif maupun negatif. Pada masa kini banyak sekali beredar informasi yang sebelumnya tidak pernah kita lihat. Kita dapat dengan mudah mengakses informasi yang tabu maupun yang penuh dengan kekerasan. Berkembangnya literasi media seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kemudian melahirkan tantangan yang menuntut manusia memiliki kemampuan literasi lain, di luar melek huruf. Perkembangan ini kemudian membuat definisi dan makna literasi akan terus berubah seiring perkembangan zaman. Literasi media merupakan kemampuan dan keterampilan yag sangat penting dan relevan dengan kebutuhan era kekinian. Menjadi individu yang terliterasi membutuhkan informasi dan keahlian. Informasi merupakan bahan baku untuk membentuk struktur pengetahuan sedangkan keahlian adalah perangkat untuk memanfaatkan dan mengolah informasi. Sementara itu Lawrence Lessig memandang literasi media sebagai kemampuan individu dalam aktivitas nyata, ketika berhubungan dengan media. Ia mengemukakan bahwa literasi media adalah kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan mendekonstruksikan pencitraan media. Kemampuan untuk melakukan hal tersebut bertujuan agar konsumen media menjadi melek media. . Sedangkan Literasi media menurut Aspen Media Literacy Leadership Institute adalah kemampuan untuk mengakses, meneliti, mengevaluasi, dan menciptakan media di dalam bermacam wujud yang berlian dengan kemampuan tiap-tiap individu dalam beragam tahapan aktivitas literasi media. Literasi media pada dasarnya merupakan kemampuan untuk memahami dan menganalisis serta mendekonstruksi pencitraan media. Di zaman sekarang ini tampaknya media menjadi suatu hal yang sangat banyak dimanfaatkan oleh berbagai pihak. Berita yang ada pada media dan dikonsumsi oleh publik. Jadi media dianggap sebagai sumber informasi dan sumber data serta sumber kebenaran bagi banyak orang. Tak hanya melek pada media massa, masyarakat juga diharapkan melek dengan adanya pesan di berbagai media massa dalam konteks komunikasi massa. Literasi media juga dapat diartikan sebagai pemahaman sumber, teknologi komunikasi, kode yang digunakan, pesan yang dihasilkan, seleksi, interpretasi, dan dampak dari pesan tersebut. contoh literasi media, antara lain mencari sumber informasi yang bersifat ilmu pada website yang terpercaya, mencari berita untuk diri sendiri dan relasi yang paling valid. Perkembangan literasi media misalnya, saat ini tak hanya tentang literasi media teks saja tetapi juga sudah diperluas maknanya mencakup perkembangan literasi media dalam bentuk visual, audio visual dan dimensi-dimensi komputerisasi, sehingga dalam sebuah teks tersebut memunculkan berbagai unsur kognitif, afektif, dan intuitif. Di dalam literasi media, ada pembingkaian pesan melalui teks, gambar, dan suara yang menjadi beberapa aktivitas media untuk memengaruhi pikiran dan perasaan masyarakat sebagai pembaca. Sehingga akhirnya, literasi media tidak hanya sekadar memberikan informasi dan hiburan semata, tetapi juga mengajak khalayak umum untuk melakukan perubahan perilaku. Korporasi media industri memiliki posisi yg penting ketika tumbuh bersama masyarakat. Menyebarkan gagasan, ideologi dan berbagai pengetahuan baik-buruk. Industri media dapat memanipulasi kesadaran dan pikiran masyarakat. Pencapaian tujuan oleh beberapa pihak tentu tidak selamanya berdampak positif bagi orang lain. Beberapa hal memberikan dampak negatif untuk masyarakat luas. Setiap informasi yang ada pada media seringkali disebarkan tanpa adanya bukti valid dan tidak sesuai fakta. Terlebih lagi informasi yang bersifat negatif tentu akan menjadi santapan empuk untuk disebarkan ke masyarakat luas. Hingga masyarakat saat ini tidak dapat lagi membedakan berita yang benar dan berita yang tidak benar. Karena itu diperlukanlah suatu literasi media untuk mengulik informasi yang ada dan beredar di kalangan masyarakat. . Media kini seolah memiliki kekuasaan dan sangat berpengaruh pada segala aspek kehidupan masyarakat. Media ini bahkan kini menjadi suatu alat bagi berbagai pihak yang ingin mencapai tujuan atau kepentingan pribadi dan golongannya. Salah satu cara untuk menangkalnya adalah dengan memberikan edukasi literasi media kepada anak-anak. Sehingga generasi muda bisa lebih bijaksana dalam menangkap pesan yang diterima dari suatu media, dan bukan sebatas membaca atau menonton kemudian mempercayai dan menyebarkannya.

EKSISTENSI PERPUSTAKAAN SEBAGAI GERBANG LITERAT  BAGI GENERASI MILINEAL
22 Jun 2022

EKSISTENSI PERPUSTAKAAN SEBAGAI GERBANG LITERAT BAGI GENERASI MILINEAL

PENDAHULUAN Sebagai pusat informasi, pengguna perpustakaan terdiri dari generasi yang berbeda-beda, yaitu generasi tradisional, generasi baby boomers, generasi X, generasi Y, generasi Z, generasi alfa, dan generasi-generasi berikutnya sesuai dengan istilah yang disematkan kepada mereka. Menurut Absher dan Amidjaya (2008), generasi Y yang juga disebut sebagai generasi milenial adalah generasi yang lahir antara kisaran tahun 1982 hingga tahun 2002. Berbeda dengan karakteristik generasi lainnya, generasi milenial berusia antara 16 sampai dengan 36 tahun, sangat adoptif, dan memiliki ketergantungan dengan penggunaan media teknologi informasi dan komunikasi seperti telepon seluler, internet, e-mail, SMS, YouTube, WhatsApp, instagram, dan lain sebagainya. Selain memiliki kebebasan untuk memilih sesuatu yang diinginkan dan kebebasan dalam berekspresi, generasi milenial juga senang melakukan berbagai macam perubahan. Tak pelak generasi milenial dikatakan sebagai inovator yang mengandalkan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi untuk melakukan perubahan dalam berbagai aspek kehidupan. Dengan karakteristik yang dimiliki oleh generasi milenial, dapat menjadikan mereka sebagai indikator pendorong perubahan yang ada di perpustakaan.   PEMBAHASAN Generasi milenial memiliki ciri menjadikan teknologi sebagai gaya hidup. Dengan gadget yang dimiliki, mereka merasa nyaman dalam berkomunikasi antara satu sama lain, juga berkolaborasi dalam mengembangkan jaringan. Ketergantungan dalam menggunakan teknologi menjadi sesuatu yang berlebihan bagi generasi ini. Pada situasi banjir informasi seperti sekarang, kebutuhan generasi milenial akan informasi semakin meningkat. Hal ini didukung dengan beranekaragamnya pola perolehan informasi dan ditunjang oleh tersedianya berbagai perangkat mutakhir berkecepatan tinggi yang dapat menjangkau wilayah yang luas tanpa batas. Semakin berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi yang begitu cepat, berdampak pula terhadap eksistensi perpustakaan. Menyikapi kondisi tersebut, untuk mewujudkan generasi milenial menjadi generasi yang literat, perpustakaan harus melakukan berbagai macam perubahan dalam berbagai hal. Perubahan tersebut mencakup kebijakan, sarana prasarana, fasilitas, pola layanan, sistem pengelolaan perpustakaan, sumber daya pustakawan, dan lain sebagainya. Keberadaan pustakawan sebagai mediator dan fasilitator informasi sangat dibutuhkan untuk menyikapi semakin cepatnya pergeseran kebiasaan masyarakat dalam mencari dan menerima informasi serta perkembangan teknologi yang tidak terbendung sehingga memaksa perubahan pola masyarakat, khususnya generasi milenial, dalam hal pemenuhan kebutuhan informasi di perpustakaan. Kemudahan dalam mengakses informasi yang serba instan dan ketersediaan fasilitas yang ditawarkan merepresentasikan sistem layanan informasi yang dimiliki oleh perpustakaan. Perpustakaan dapat menyediakan perangkat komputer dengan gratis beserta printer yang memiliki kemampuan mencetak dan menyalin dengan biaya murah. Perpustakaan juga diharuskan menyediakan area bebas wifi, mampu membangun jaringan dengan perpustakaan lainnya, menyediakan layanan perpustakaan digital, serta memperbanyak langganan e-books dan e-journal guna memberikan kemudahan bagi generasi milenial dalam berselancar mencari informasi yang mereka butuhkan. Dalam penyediaan bahan bacaan, pustakawan diharuskan melakukan riset dan analisis mengenai konten bahan bacaan yang dibutuhkan oleh generasi milenial. Pustakawan juga dituntut agar bisa melakukan kajian mengenai bagaimana penyajian konten bahan bacaan tersebut dapat menarik minat mereka. Penyediaan bahan bacaan harus menjangkau semua klas, mulai dari fiksi maupun non fiksi, dari penulis lokal maupun dari karya terjemahan. Sebagai tempat inspirasi, pustakawan dapat membuat pojok-pojok khusus di perpustakaan. Dengan penataan perabot dan ruangan yang mengandung unsur seni akan menjadikan generasi milenial merasa nyaman dan betah berada didalamnya. Mereka dapat membaca buku dengan santai atau setidaknya dengan ketenangan yang mereka peroleh memungkinkan mereka untuk mengerjakan pekerjaan menjadi lebih efisien.   PENUTUP Pada era generasi milenial, perpustakaan dituntut untuk lebih berperan aktif dalam memberikan layanan informasi yang dibutuhkan. Dalam memberikan layanan kepada pengguna, perpustakaan harus mengacu pada efisiensi dan efektifitas waktu, sehingga mereka merasa terpuaskan dengan layanan yang ada. Berkembangnya teknologi seharusnya dapat dimanfaatkan oleh perpustakaan dalam meningkatkan kualitas layanannya. Era generasi milenial merupakan era dimana segala didukung oleh penggunaan teknologi informasi dan komunikasi, sehingga mau tidak mau, suka tidak suka perpustakaan harus bertransformasi guna mengikuti perkembangan teknologi informasi dan komunikasi tersebut. Dalam hal ini peran pustakawan sangat dibutuhkan, dalam transisi perpustakaan manual ke perpustakaan otomasi yang kemudian menuju perpustakaan digital. Berdasarkan pembahasan diatas, berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi yang berdampak pada generasi milenial harus dapat dimanfaatkan secara optimal oleh perpustakaan. Perpustakaan harus dapat menjadi media penyeimbang dari banjirnya informasi yang ada di internet dan membuat generasi milenial menjadi literat melalui pemanfaatan fasilitas yang ada di perpustakaan dalam mencari informasi yang mereka butuhkan. Dengan menjadi literat, generasi milenial tidak hanya memiliki kemampuan membaca, tetapi juga memiliki kemampuan menganalisis bahan bacaan dan memahami konsep dibalik bahan bacaan tersebut. Dengan menjadi literat, generasi milenial juga memiliki kemampuan untuk berpikir lebih kritis dan menjadikan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi sebagai upaya dalam peningkatan kualitas hidupnya.

Diah Widyastuti Baca Selengkapnya
Mendekatkan Anak dengan Buku
16 Jun 2022

Mendekatkan Anak dengan Buku

Buku adalah jendela dunia. Dari buku kita banyak mengetahui beragam ilmu pengetahuan. Buku merupakan sumber ilmu yang membuka wawasan pembaca tentang aspek-aspek kehidupan. Dengan membaca buku kita bisa mendapatkan inspirasi, menstimulasi mental, mengurangi stres, menambah kosakata, hingga meningkatkan kualitas memori. Membaca buku dapat menstimulasi otak sehingga tidak mudah lupa dan otak terus terasah. Membaca buku baik untuk semua kalangan mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga yang berusia lanjut. Memperkenalkan anak dengan buku bisa dilakukan sedini mungkin. Salah satu caranya dengan mendekatkan buku-buku bacaan berkualitas pada sang anak dan menyediakan bahan bacaan yang disukai di rumah sesuai dengan kebutuhan di usianya. Misalnya dengan menyediakan buku kumpulan cerpen, kumpulan dongeng, buku biografi para tokoh, dan bacaan kesukaan lainnya. Selain menyediakan bahan bacaan di rumah, agar anak lebih dekat dengan buku, sesekali ajak anak ke toko buku ataupun ke perpustakaan. Berikan waktu dan kesempatan kepada anak untuk lebih dekat lagi dengan buku. Biarkan anak memilih bahan bacaan yang disukainya dan damping anak untuk memilih buku bacaannya. Ketika anak sudah merasa dekat dan terlatih, akan tumbuh minat membaca pada diri anak. Jika minat baca anak sudah tumbuh, maka dengan sendirinya mereka akan melakukan kegiatan membaca. Bahkan dia akan senang ketika di ajak ke toko buku, maupun perpustakaan. Jika anak sudah terbiasa memiliki waktu untuk membaca, maka ia akan menjadikan membaca adalah sebuah kebutuhan yang harus dilakukan tiap saat. Dengan menjadikan membaca sebuah kebutuhan berarti anak menyadari bahwa membaca adalah hal yang menyenangkan. Agar kegiatan membaca menyenangkan perlu memperhatikan penerangan yang cukup, ruangan yang rapi dan jauh dari kebisingan, hingga kursi yang nyaman.  Sehingga tidak salah menyediakan perpustakaan kecil di rumah, agar anak merasa nyaman untuk membaca. Sebagai orang tua tidak semerta-merta untuk lepas tangan pada bacaan anak. Namun mendampingi anak pada saat membaca juga harus kita lakukan, dan pastikan buku yang dibaca adalah buku yang tepat dan sesuai dengan usianya. Orang tua harus mengarahkan anak agar tidak salah dalam memilih dan memahami buku yang dibacanya. Karena pendidikan dasar yang diterima anak adalah dari orang tua sebagai orang terdekatnya, sehingga sudah menjadi tanggung jawab orang tua untuk merangsang minat baca kepada anak-anaknya sedini mungkin. Sebagai orang tua sudah pasti menginginkan anaknya untuk dekat dengan buku. Agar hal itu dapat tercapai dibutuhkan peran aktif orang tua. Peran aktif bisa saja dengan menyediakan buku-buku yang dibutuhkan oleh anak, membacakan buku cerita pada anak, ataupun memilihkan buku bacaan yang tepat. Disamping dibutuhkannya peran orang tua, peran eksternal juga sangat dibutuhkan. Peran eksternal yang dimaksud disini yaitu peran perpustakaan sebagai penyedia sumber informasi. Perpustakaan sebagai salah satu wadah penyedia informasi juga berperan dalam meningkatkan kecintaan anak pada buku. Bagaimana caranya? Tentu saja dengan menyediakan bahan bacaan yang menarik untuk anak yang disesuaikan dengan tingkatan umur dan kebutuhan anak. Menyediakan bahan bacaan yang bervariasi merupakan cara efektif untuk menarik perhatian anak. Apabila peran dari internal dan eksternal sudah berjalan, maka tidak ada lagi anak yang malas untuk membaca buku.    DAFTAR PUSTAKA https://blog.kejarcita.id/7-cara-agar-anak-lebih-suka-membaca-buku-daripada-mainan-gadget/ https://duniaperpustakaan.com/2016/09/mengenalkan-buku-kepada-anak.html

Uliarta Simanjuntak, S.Sos, Pustakawan DKPUS Prov.Kep.Babel Baca Selengkapnya
Literasi Teknologi
30 Mei 2022

Literasi Teknologi

Ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini mengalami perkembangan yang sangat pesat sehingga pemerintah  serta masyarakat dituntut untuk berperan di dalamnya. Penggunaan teknologi sudah menjadi hal umum bagi kita seiring dengan pesatnya arus globalisasi, tidak hanya untuk keperluan pendidikan, tetapi juga untuk hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan sehari -hari. Teknologi yang dimanfaatkan dengan baik tentunya akan memberikan pengaruh positif pada masyarakat. Tatkala teknologi menjadi “teman” yang baik, dalam masyarakat maka akan  menhasilkan produk yang baik dengan proses yang efisien dan efektif. Teknologi yang dimanfaatkan dengan baik menciptakan  masyarakat yang kreatif dan inovatif. Tentu untuk mencapainya di perlukan literasi teknologi yang mumpuni. Maryland Technology Education State Curriculum menjelaskan bahwa literasi teknologi adalah kemampuan untuk menggunakan dan menilai suatu inovasi yang melibatkan proses dan ilmu pengetahuan untuk memecahkan masalah serta memperluas kemampuan seseorang. Sedangkan menurut National Academy Of Engineering and National Research Council Of The National Academis, Literasi Teknologi ialah sebuah pemahaman tentang teknologi pada sebuah tingkatan yang memungkinkan pemanfaatan secara efektif dalam masyarakat teknologi modern yang terdiri dari tiga komponen utama yaitu, pengetahuan, kemampuan dan berfikir kritis, serta pembuatan keputusan. Berdasarkan definisi di atas, maka literasi teknologi dapat dimaknai sebagaikemampuan yang terdiri dari aspek ilmu pengetahuan, keterampilan berpikir kritis,serta pembuatan keputusan dalam upaya pemanfaatan teknologi/ inovasi hasil karya manusia secara efektif. Literasi teknologi mencakup tiga hal, yaitu pengetahuan dan keterampilan dalam pengoperasian perangkat teknologi (smartphone, tablet, laptop, dan komputer), keterampilan mengolah informasi yang bersifat daring (Mencari, mengolah, mengevaluasi dan mengkomunikasikan informasi), dan keterampilan Ada banyak manfaat jika Anda menerapkan literasi teknologi sejak dini, berikut manfaat literasi teknologi: Memiliki keterampilan mencerna dengan bijak informasi media sosial Memiliki pemikiran kritis dan membentuk cara berfikir yang mendalam Kemudahan mendapatkan sumber-sumber belajar sehingga mampu meningkatkan kompetensi dalam belajar Mudah berokomunikasi dengan teknologi yang sedang digunakan Bloch E menyatakan bahwa literasi sains dan teknologi adalah suatu kebutuhan dan tantangan, karena keduanya memainkan peranan penting dalam kehidupan, terutama untuk meningkatkan kualitas kehidupan. Dengan literasi sains dan teknologi dapat memberikan informasi dasar untuk mengembangkan pengambilan keputusan. Literasi sains dan teknologi ini berfokus pada implikasi dari problem dalam masyarakat yang bersifat lokal, regional, maupun nasional. Selanjutnya, Poedjiadi menyatakan bahwa seseorang yang memiliki literasi sains dan teknologi adalah yang memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah menggunakan konsep-konsep sains yang diperoleh dalam pendidikan sesuai jenjangnya, mengenal produk teknologi yang ada disekitarnya beserta dampaknya, mampu menggunakan produk teknologi dan memeliharanya, kreatif membuat hasil teknologi yang disederhanakan dan mampu mengambil keputusan berdasarkan nilai dan budaya masyarakat. Literasi Teknologi adalah konsep yang kuat. Ini berlaku untuk orang dewasa, anak-anak, pelajar, dan siapa pun yang bekerja di lingkungan berbasis informasi. Di zaman sekarang, lebih banyak orang yang bekerja di depan komputer daripada sebelumnya, baik untuk alasan pribadi maupun profesional. Salah satu aspek terpenting dari bekerja dari rumah, di lingkungan berteknologi tinggi, adalah mempelajari dan menggunakan alat yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan di lingkungan online. Teknologi Literasi membantu masyarakat untuk tetap aktif dengan segala perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangakan bagi kalangan remaja yang sat ini aktif di dunia maya  diharapkan akan menjadi generasi penerus yang partisipatif serta membekali diri dengan teknologi literasi (melek teknologi) demi tuntunan jaman yang semakin kompleks.

Literasi Numerasi
25 Apr 2022

Literasi Numerasi

Salah satu dari enam macam literasi yang penting diketahui menurut web resmi Dirjen PAUD Kemdikbud RI adalah Literasi Numerasi. Literasi numerasi merupakan kecakapan untuk menggunakan berbagai macam angka dan simbol yang terikat dengan matematika dasar untuk memecahkan masalah praktis dalam berbagai macam konteks kehidupan sehari-hari. Literasi numerik atau literasi numerasi diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam menggunakan penalaran.  Dengan kegiatan literasi numerasi yang terbimbing diharapkan akan mampu mengarahkan kita pada suatu peningkatan kemampuan yaitu utamanya kemampuan membaca dan mengolah informasi yang di bacanya serta kemampuan memahami konsep bilangan dan operasi hitung. Literasi numerasi adalah pengetahuan dan kecakapan untuk: (1) Menggunakan berbagai macam angka dan simbol-simbol yang terkait dengan matematika dasar untuk memecahkan masalah praktis dalam berbagai macam konteks kehidupan sehari-hari, dan; (2) menganalisis informasi yang ditampilkan dalam berbagai bentuk (grafik, tabel, bagan, dan sebagainya) lalu menggunakan interpretasi hasil analisis tersebut untuk memprediksi dan mengambil keputusan. Pelaksanaan literasi numerasi dilakukan melalui 3 (tiga) tahap yaitu tahap pembiasaan, tahap pengembangan yang berorientasi pada pemahaman konsep dasar matematika dan tahap terakhir adalah tahap pengaplikasian konsep matematika. Ketrampilan numerasi sangat diperlukan dalam semua aspek kehidupan, baik di sekolah, di rumah, dalam pekerjaan maupun di dalam hidup bermasyarakat. Admazaki, dkk (2017) mengemukakan bahwa jika memaknai materi numerasi dengan baik dan benar, maka seseorang akan dapat memiliki kemampuan numerasi yang baik dan benar pula. Kemampuan numerasi merupakan garda kehidupan diri terhadap angka pengangguran, penghasilan yang rendah dan kesehatan yang buruk. Istilah numerasi sering kali diidentikkan dengan matematika. Namun numerasi berbeda dengan matematika, meskipun berlandaskan pada pengetahuan yang sama. Didalam matematika seringkali terikat dengan kaidah-kaidah matematis yang sulut diaplikasikan dalam kehidupan nyata sehari-hari. Ekowati dan Suwandayani (2019) berpendapat bahwa numerasi mencakup ketrampilan mengaplikasikan konsep dan kaidah matematika dalam situasi nyata sehari-hari, ketika permasalahannya seringkali tidak terstruktur, memiliki banyak cara penyelesaiannya, atau bahkan tidak ada penyelesaian yang tuntas, serta berhubungan dengan faktor matematis. Literasi numerasi ini memiliki manfaat yang sangat nyata, karena penerapannya terasa langsung dalam kehidupan sehari-hari. Manfaat literasi numerasi yang di rasakan langsung oleh kita adalah memiliki pengetahuan dan keterampilan khusus mengenai perhitungan dan simbol matematika yang di terapkan dalam kehidupan nyata berupa manajemen tugas yang baik dan kita dapat dengan mudah mengambil keputusan dalam aspek kehidupannya. Berikut ini merupakan manfaat dari literasi dan numerasi yang bisa kita ketahui Penguatan literasi, numerasi, dan adaptasi teknologi merupakan usaha yang penting dilakukan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Era Digital dan Era Disrupsi. Indonesia berada sangat jauh tertinggal dari negara-negara lainnya dalam hal kemampuan tersebut. Pemerintah dan juga pihak terkait (Sekolah, Perguruan Tinggi, Badan Penjamin Mutu Pendidikan, dan Orang Tua) harus berperan serta dalam penguatan literasi, numerasi, dan adaptasi teknologi bagi Peserta didik dan juga pendidik di Indonesia. Salah satu kegiatannya adalah mengintegrasikan kegiatan literasi, numerasi, dan teknologi dalam pembelajaran baik di Rumah atsu di masyarakat. Di dunia kita yang sangat teknis, keterampilan matematika, terutama kemampuan untuk menganalisis informasi, menjadi semakin penting dan juga sangat di minati oleh pemberi kerja. Kurangnya kepercayaan diri dalam matematika dan kemampuan berhitung yang buruk merupakan hambatan untuk mendapatkan pekerjaan karena ujian matematika semakin menjadi komponen penting dari proses rekrutmen. Literasi numerasi sangat berperan dalam menentukan  dengan masa depan seorang individu di era yang semua berbasis digital.